TRENGGALEK-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek membuat wacana Pasar Basah dan Pasar Pon akan dimerger. Pemergeran itu sebagai upaya pemkab menarik minat kunjung masyarakat ke Pasar Pon.
Namun, pedagang Pasar Basah memberikan reaksi keengganan karena pedagang khawatir konsumen langganan kabur.
Salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Basah, Siti, mengatakan bahwa baru mendengar wacana pemkab tentang penggabungan pedagang Pasar Basah ke Pasar Pon. Namun, menanggapi wacana tersebut, Siti memilih bertahan dan berjualan di Pasar Basah.
"Tidak setuju (terkait wacana pemkab, Red), pelanggan sudah hafal tempatnya," ungkapnya.
Diakui Siti, membangun pelanggan tetap itu tidak mudah. Dulu, sewaktu awal berjualan di Pasar Basah, butuh waktu lama untuk bisa menarik pelanggan. Namun, kini ketika sudah berhasil menarik pelanggan, pemkab berencana memindahkan tempat jualan pedagang Pasar Basah ke Pasar Pon.
"Dulu e, belum tahu (pelanggan, Red), ya sulit (mendapat pelanggan, Red). Dan sekarang pelanggan sudah tahu di sini, enak di sini," ujarnya.
Siti tidak menyoal kondisi Pasar Basah yang memiliki kesan lebih tradisional dibandingkan dengan Pasar Pon yang terkesan lebih modern. Menurut dia, kondisi itu tidak terlalu memengaruhi minat masyarakat berkunjung ke Pasar Basah.
Dengan begitu, potensi masyarakat membeli bumbu-bumbu dapur lebih tinggi. "Di sini saja, jelek ritek sing penting kenek digawe golek duit (meskipun jelek, tapi bisa digunakan untuk mencari pendapatan)," jelasnya.
Di sisi lain, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin membenarkan bahwa memang ada wacana yang mengarah tentang pemindahan pedagang Pasar Basah ke Pasar Pon, dari hasil sharing pendapat dengan pedagang Pasar Pon, Senin (25/9/2023) pagi.
Namun, wacana itu masih dalam upaya jangka menengah karena memerlukan pertimbangan matang-matang mengenai wacana tersebut. "Wacana pasar kering dan Pasar Basah, komunitas paguyuban, karena nanti konsekuensinya penataan ulang pasar," ujarnya. (tra/c1/jaz)
Editor : Didin Cahya Firmansyah