TRENGGALEK- Perajin batik Trenggalek terus berjuang agar bisnis yang dilakukan tetap bertahan, mungkin hal itulah yang dilakukan para perajin batik di Bumi Menak Sopal.
Pasalnya, saat ini perajin batik Trenggalek harus berjuang di tengah gempuran banyaknya produk kain batik impor yang pastinya dijual murah di pasaran.
Sehingga upaya yang dilakukan para perajin batik Trenggalek adalah mengenalkan motif baru yang berbeda dari batik impor tersebut.
Kendati demikian, motif baru milik perajin batik Trenggalek tidak lupa tetap mengandalkan ciri khas Trenggalek, yaitu batik cengkeh.
“Disini kami tetap membuat batik tulis, makanya bisa dipastikan harganya lebih mahal dari batik buatan pabrik. Namun pastinya mutu terjamin,” ungkap salah satu perajin batik asal Trenggalek Sulastri.
Dari situ perjuangan ekstra keras harus dilakukannya, juga para perajin batik yang lain sebab saat ini pesanan batik yang ada turun sekitar 50 persen dari pada hari-hari biasanya.
Dimungkinkan itu terjadi karena masyarakat lebih mementingkan untuk membeli kebutuhan pokok, dari pada lainnya.
Apalagi ditambah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BMM) yang tentunya bakal mempengaruhi daya beli di masyarakat.
“Dengan kondisi seperti itu tidak ada yang bisa kami lakukan melainkan menyesuaikannya,” katanya.
Sehingga untuk mempertahankan eksistensi usaha batiknya, tidak ada yang dilakukan selain meminimalkan bahan baku.
Dari situ saat ini kebanyakan pengrajin hanya melayani pesanan saja, dan hasil yang diperoleh tiap bulan hanya cukup untuk membeli bahan pokok yang lain.
“Dulu ketika masih ramai-ramainya, setiap bulan saya bisa menjual sekitar 40 lembar kain batik, ke pengepul, jadi setidaknya satu hari harus bisa membuat lima kain,” imbuhnya.
Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan oleh pengrajin batik asal Desa Ngentrong, Kecamatan Karangan Agus Budiawan.
Dia menambahkan, sepinya pesanan batik telah terjadi sejak pandemi Covid-19 ini mulai ada.Sebab saat itu tempatnya berjualan dari sebelumnya yang tiap bulan menjual sekitar 150 kain batik, kini maksimal hanya bisa menjual sekitar 50 lembar kain batik.
Padahal dengan pekerja yang ada bisa memproduksi lebih dari itu. Dengan demikian, jika terus memproduksi pastinya akan rugi sebab bingung untuk menjualnya.
Sedangkan untuk awal mula kerajinan batik tersebut telah dimulai sekitar 2010 lalu. Saat itu, Tipuk yang sebelumnya juga menjadi pekerja pengrajin batik, ikut lomba kreasi batik di tingkat provinsi, dan berhasil menjadi juara satu dengan hadiah Rp 4 juta.
Dari situ sebagian uang hadiah tersebut digunakan untuk modal membuka kerajinannya dengan membeli bahan dan perlengkapan untuk membatik.
Keberanian itu dilakukan selain ingin membuka usaha sendiri, melestarikan batik yang merupakan budaya leluhur, juga sejak dulu dirinya hobi menggambar terutamanya membuat berbagai motif batik.
”Dari situ kendati pesanan sepi karena kebanyakan pesanan berupa batik sarimbit, atau seragam sekolah saya tetap bertahan. Dan untuk menghemat biaya produksi saya mengurangi pekerja,” jelasnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah