Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harus Berjalan 5 Km, Ini Kisah 149 Keluarga di Desa Mlinjon, Suruh, Trenggalek Ketika Kemarau

Zaki Jazai • Rabu, 4 Oktober 2023 | 03:37 WIB

KERING : Salah seorang warga Dusun Selorejo, Desa Mlinjon mengantri untuk mendapatkan air bersih.
KERING : Salah seorang warga Dusun Selorejo, Desa Mlinjon mengantri untuk mendapatkan air bersih.

TRENGGALEK- Dimusim kemarau seperti saat ini kekeringan terus menjalar di berbagai tempat wilayah Trenggalek, seperti di wilayah Dusun Selorejo, Desa Mlinjon, Kecamatan Suruh, Trenggalek. Karena itu warga harus berjalan berkilo-kilometer untuk mendapatkan air bersih.

Warga di Dusun Selorejo, Desa Mlinjon, Kecamatan Suruh,Trenggalek mulai mengalami kekeringan mulai Agustus 2023 lalu . Hal itu terlihat sumur yang biasanya dimanfaatkan warga untuk keperluan sehari-hari telah mengering. Begitu juga dengan, sumber air yang berada di daerah pegunungan.

“Karena situasi itu beberapa warga ada yang membeli air untuk diminum, sedangkan untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK) mencari air dari sungai,” ungkap salah satu warga Mulani.

Baca Juga: Kendala Batik Khas Trenggalek, Perajin: Perjuangan Ekstra Keras Harus Dilakukan

Tercatat ada sekitar 149 keluarga yang terdampak kekeringan tersebut. Sedangkan, untuk setiap keluarga ada sekitar dua hingga empat anggota. Saat ini kondisi kesulitan air cukup parah, mengingat semua warga kesulitan untuk mencari air. Adapun air, harus mencari di sungai yang kondisinya telah keruh karena dangkal juga sering diambil warga.

“Warga harus mengantri jika ingin mencari air di sumur untuk konsumsi dengan jarak sekitar satu kilometer. Sedangkan untuk keperluan MCk cari di sungai yang jaraknya ada kalau lima kilometer,” katanya.

Baca Juga: Kemarau, Masyarakat Jajar Perang Cambuk, Laksanakan Tradisi Tiban untuk Memohon Hujan

 

Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan oleh warga lainnya Ranu. Dia menambahkan,sebenarnya tanda-tanda bahwa desa akan mengalami kekeringan telah dirasakan sejak akhir Juli 2023. Saat itu sumur warga mulai mengering, dan beberapa warga harus kehutan untuk mencari air.

Namun, pada saat itu belum melaporkan kepada Pemerintah soal permintaan pasokan air, karena air bersih dirasa masih cukup. Karena itu kekeringan baru dirasakan warga sekitar pertengahan Agustus kemarin. Untuk itu warga mengajukan permintaan air bersih ke pemerintah.

“Bantuan air bersih yang dikirim ini biasanya hanya cukup buat minum dan masak sehari-hari, “ imbuhnya.

Baca Juga: Ternyata Trenggalek Dulu Pernah Dilewati Kereta Api, Simak Rutenya

 

Hal tersebut diakui oleh Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Trenggalek Ratna Sulistyowati. Dia menambahkan saat ini Dinsos P3A telah berkoordinasi dengan BPBD Trenggalek untuk bersama-sama membantu warga yang membutuhkan air bersih. Karena itu saat ini Dinsos P3A diberikan kepercayaan untuk menyuplai air bersih di Desa Mlinjon. Kemudian untuk mobil sendiri disiapkan tiga mobil tangki yang berisi empat ribu liter.

“Di sini (Trenggalek-Red) ada 9 desa yang mengalami kekeringan, di Kecamatan Suruh ada 2 di Suruh dan Mlinjon, Alhamdulillah kemarin dengan Kemensos mendapatkan anggaran penanganan bencana itu salah satunya menangani dampak kekeringan,”imbuhnya.

Selain itu,  Desa Mlinjon sudah mendapatkan bantuan 21 tandon air masing-masing memiliki kapasitas tampung 1.200 liter. Sedangkan bantuan sendiri, Dinsos P3A mendapat jatah 47 tangki, dari awal 11 September sudah terdistribusi 25 tangki.

“Walaupun belum akan kita upayakan, apalagi suasana nya rumah padat tapi tidak ada air. Bantuan ini kita akan salurkan secara berkala karena rata-rata setiap kiriman cukup untuk 3 harian,” jelasnya.(jaz)

 

Editor : Zaki Jazai
#kemarau #trenggalek #kekeringan