TRENGGALEK- Selain mengakibatkan kekeringan yang berdampak kelangkaan air bersih, musim kemarau di Trenggalek juga mempengaruhi harga bahan pangan. Pasalnya, saat ini harga beras di pasar telah melambung tinggi, dibanding ketika musim penghujan lalu.
Saat ini harga beras jenis medium di kalangan pedagang sudah mencapai Rp13 ribu per kilogram (kg). Bahkan, beberapa bedagang ada yang menjual mencapai Rp 14 ribu per kg, hingga Rp 15 ribu per kg. Tak ayal, harga tersebut sangat melambung tinggi dari harga beras sewajarnya yang hanya berkisar di angka Rp9 ribu per kg.
“Ini merupakan harga tertinggi, sebab ketika saya berjualan beras belum pernah mencapai harganya segini (Rp13 ribu-red),”ungkap salah satu tengkulak beras dari Desa Rejowinangun, Kecamatan Trenggalek Siti Muawanah.
Dia melanjutkan, dimungkinkan kenaikan harga beras tersebut merupakan salah satu dampak dari musim kemarau yang ada saat ini. Sebab dengan adanya musim kemarau, para petani kesulitan air untuk mengairi sawahnya.
Dampaknya,mereka memilih tanaman lain seperti jagung atau jenis palawija yang notabennya tidak memerlukan banyak air dari pada tanaman padi.
“Kenaikan harga beras ini telah kami rasakan sekitar akhir bulan agustus lalu, sebab saat itu saya beli gabah kering giling (GKG) telah mencapai harga Rp7,8 ribu hingga Rp 8 ribu perkilogram. Padahal sebelumnya masih di kisaran Rp 5,5 ribu per kg,” katanya.
Selain harga yang tinggi, kondisi saat ini juga diperparah dengan para pedagang kesulitan mendapatkan GKG. Karena stok di rumah-rumah petani mulai menipis. Sebab para petani tidak akan menjual gabah persediaanya, lantaran digunakan stok untuk konsumsi keluarga selama tiga bulan kedepan.
Jika ada yang menjual itupun hanya beberapa petani saja yang benar-benar membutuhkan uang.
Itu dibuktikan saat ini dirinya hanya bisa mmebeli gabah dari petani sekitar 0,5 kuintan maksimal 2 kwintal saja jika ada yang menjual.
Itupun tidak terjadi setiap hari. Padahal, sebelumnya ketika musimpanan tiba dirinya bisa mendapatkan sekitar 5 kuintal gabah, bahkan bisa mencapai 1 ton lebih ketika musim panen tiba.
Dengan kondisi tersebut dirinya tidak bisa serta merta menjual beras persediaanya ke toko atau pihak lain yang mkembutuhkan.”Tidak ada stok, jadi kami tidak berani membeli ke sembarang orang sebab telah memiliki langganan. Semoga saja musim kemarau cepat berakhir dan hujan kembali turun sehingga para petani mulai menanam padi lagi,”jelas Siti. (jaz)
Editor : Zaki Jazai