TRENGGALEK – Wayang tidak hanya terbuat dari kulit maupun kayu untuk pertunjukan. Namun wayang di Trenggalek ini berbeda, karena terbuat dari ampas ketela pohon untuk bahan baku tepung tapioka. Anehnya lagi benda yang disebut wayang gaplek ini justru makanan langka yang sulit ditemukan.
Mencari wayang gaplek di pasaran pun sekarang tidak ada. Padahal di dekade 1970-an hingg 1980-an cukup lazim ditemukan. Umumnya untuk camilan dan jajanan anak kecil di Trenggalek.
Radar Tulungagung pun akhirnya menemukan orang yang bisa membuat panganan ini. Dia adalah Tukilah, warga Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan, Trenggalek. Dia merupakan satu-satu orang yang bisa membuat wayang gaplek di Trenggalek.
Baca Juga: Upaya Seniman Muda Blitar Jaga Eksistensi Wayang Orang di Tengah Gempuran Globalisasi
“Lebih dari 40 tahun lalu saya terakhir kali membuat wayang gaplek,” katanya saat ditemui di kediaman sederhananya, Selasa (7/11/2023).
Menurut dia, bahan baku wayang gaplek adalah gamblong atau ampas sisa ketela pohon. Setelah diayak, gamblong pun dijemur. Setelah kering dibumbui bawang, garam, dan kunyit. Baru dikukus dan ditumbuk agar teksturnya lebih halus.
“Setelah ditumbuk baru dibentuk menyerupai wayang di lidi bambu dan diberi pewarna makanan. Kemudian digoreng seperti menggoreng lauk pada umumnya,” tambahnya.
Ibu dua anak ini mengaku, makanan jenis ini memang jarang ada yang mengetahui. Padahal pada zaman dulu terhitung cukup populer di kalangan masyarakat.
Untuk banderol harga pun terbilang murah meriah. Sejinah atau 10 tusuk hanya Rp 25. Tak mustahil pada zaman dulu banyak yang menyukai meskipun rasanya cukup bersahaja.
“Saya sudah 40 tahun lebih tidak membuat. Baru hari ini kembali membuat karena ada permintaan salah satu tetangga. Ya, semoga semakin banyak yang mengingat makanan ini sembari bernostalgia,” tandasnya.(*/rka)
Editor : Dharaka R. Perdana