TRENGGALEK - Tak hanya terkenal sebagai produsen Alen-alen, Kabupaten Trenggalek juga dikenal sebagai sentra genting.
Salah satu sentra genting itu berada di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek. Sebuah desa industri rumahan yang tetap eksis hingga kini.
Di musim hujan, para perajin genting memendam keluh-kesah, biaya operasional semakin mahal. Namun itu tak menyurutkan para perajin untuk tetap produksi.
Biasanya, para perajin genting di Kamulan mengambil bahan baku (tanah liat) dari Desa Gador, Kecamatan Durenan.
Alasannya karena jarak tempuh yang tidak begitu jauh, sehingga dapat menekan biaya produksi.
"Harga tanah kisaran Rp230-240 ribu per truk-nya. Kalau ambil di Gador biaya transportasinya gak nambah," ungkap salah satu pengrajin genting di Desa Kamulan, Muhammad Riski Saputra.
Dia menambahkan, harga tersebut masih bisa naik. Terlebih ketika musim hujan hasil cetakan genteng sulit untuk mengering.
Kondisi ini membuat pengeluaran produksi semakin membengkak.
"Kalau hujan gini mau tidak mau menunggu kering sampai 5-7 hari," jelasnya.
Untuk saat ini harga genteng stabil di kisaran Rp1,7-1,8 juta per seribu genting. Sedangkan jika memasuki hari raya Idul Fitri atau bulan Safar harga dapat meningkat sampai dengan 2,3 juta per seribu genting.
Hal tersebut terjadi lantaran banyak warga atau pemborong yang memesan.
"Harga bahan baku naik terus, sedangkan genting harganya anteng-anteng saja," tambah pemuda yang kerap disapa Riski tersebut.
Dalam pemasarannya, para perajin genting biasanya memiliki pelanggan tetap dari para pemborong (mandor, Red).
Untuk meluaskan pasarnya, Riski mengaku menggunakan market place dengan memanfaatkan iklan yang ada di media sosial (medsos).
Dengan memanfaatkan fitur tersebut ekspansi pasar yang dilakukan dapat sampai ke luar pulau.
Lokasi pemasaran yang biasanya dilakukan hanya dikirim ke daerah Tulungagung, Blitar, Kediri dan Nganjuk.
Sedangkan jika dijual secara online bisa sampai kirim ke Pulau Bali.
Untuk saat ini peminat genting masih cukup banyak.
"Meskipun sudah ada galvalum dan asbes, biasanya orang-orang tetap menggunakan genting karena dianggap bisa membuat rumah lebih sejuk," tutup Riski. (mg1/jaz).
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra