TRENGGALEK - Wacana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek untuk menekan area blank spot (tidak ada sinyal telekomunikasi) masih jauh dari harapan.
Hingga Kamis (14/12/2023), sedikitnya ada wilayah di 16 desa yang masuk kategori desa blank spot.
Berdasarkan data yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), 16 desa tersebut tersebar di Sembilan kecamatan.
Meliputi, Desa Sidomulyo, Joho, dan Jombok, Kecamatan Pule; Desa Tangkil dan Terbis, Kecamatan Panggul; Desa Sobo dan Masaran, Kecamatan Munjungan,
Desa Siki, Ngerdani, Salamwates dan Pringapus, Kecamatan Dongko. Selain itu juga ada Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo; Desa Botoputih, Kecamatan Bendungan,
Desa Sumberdadi, Kecamatan Trenggalek; Desa Gador, Kecamatan Durenan serta Desa Gading, Kecamatan Tugu.
“Tidak semua wilayah di desa itu termasuk blank spot, hanya di beberapa desanya saja,” ungkap Kepala Diskominfo Trenggalek, Edif Hayunan Siswanto.
Dia melanjutkan, pemetaan daerah tersebut berdasarkan hasil survei. Selanjutnya diskominfo akan berkomunikasi dengan pemerintah desa untuk menemukan solusi.
Dahulunya yang menjadi titik fokus Diskominfo ada blank spot di ranah desa, namun kini beralih ke bagian yang lebih kecil, yakni dusun.
“Pengalihan fokus kami dalam memetakan blank spot dari desa ke dusun baru dimulai pada bulan November kemarin,” katanya.
Hal ini lantaran kebanyakan desa di Kabupaten Trenggalek telah mampu untuk mengakses sinyal.
Kendati demikian, masih terdapat beberapa titik di desa tersebut yang belum mampu untuk mendapatkan sinyal.
Adapun desa yang berhasil terbebas dari blank spot, diantaranya adalah Desa Kembangan, Kecamatan Pule; Desa Depok, Kecamatan Panggul; Desa Watuagung, Kecamatan Dongko; serta Desa Karanggandu, Ngembel, Watuagung dan Pakel, Kecamatan Watulimo,
"Desa itu ternyata sudah tidak semuanya blank spot jadi akhirnya kita bahasan dusun," imbuhnya.
Mantan Camat Panggul tersebut menjelaskan bahwa alasan kondisi terjadinya blank spot di beberapa dusun disebabkan oleh kondisi geografis dari tempat tersebut.
Biasanya dusun di wilayah lembah, sehingga tower terdekat ada di atas tidak bisa menjangkau oleh sinyal. Dalam melakukan perbaikan sinyal diskominfo masih mengalami hambatan.
Alasannya, disebabkan belum ada hubungan kolaborasi yang baik antara diskominfo dan desa yang terkait.
Sebenarnya untuk mengatasi area blank spot tersebut diskominfo telah menyiapkan beberapa skema dan ditawarkan ke kepala desa.
Namun mindset dari kepala desa itu ketika membelanjakan kalau tidak kelihatan kasat mata itu namanya tidak bisa tidak membangun, sehingga mereka saat ini masih fokus fasilitas lain, seperti jalan, jembatan, saluran air dan sebagainya.
Untuk itu, kedepannya Diskominfo hendak berkolaborasi dengan penyedia Internet Service Provider (ISP) lokal.
"Kami juga menanyakan solusi perihal blank spot pada Kemenkominfo, usulannya adalah dengan menggunakan internet satelit yang sekarang itu sudah sudah diterbangkan satu satelit Satria di atas Kepulauan Irian Jaya," tutup Edif.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra