TRENGGALEK - Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Predagangan pesimis pada tahun ini nilai ekspor ikan patin belum mampu untuk menyaingi ketenaran minyak atsiri.
Pasalnya, sepanjang tahun lalu (2023), nilai ekspor minyak atsiri dan ikan patin tersebut memiliki nilai yang terpaut jauh.
Buktinya berdasarkan data yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek dari Diskomidag, ikan patin berada di posisi kedua dengan nilai ekspor sebesar Rp30 miliar.
Sementara itu, minyak atsiri masih bertengger di puncak dengan nilai ekspor sebesar Rp54,72 miliar.
Angka tersebut menunjukan perbedaan yang cukup signifikan. Karena itu diprediksi bahwa ikan patin masih memerlukan waktu untuk bersaing dengan minyak atsiri.
“Saya rasa tahun ini (2024-red) belum. Ikan patin pasarnya masih dalam negeri, berbeda dengan minyak atsiri yang sudah sampai ke luar negeri,” jelas Kabid Promosi, Pengembangan Ekspor dan Perlindungan Konsumen, Diskomidag Trenggalek, Nurun Nadjmi.
Meskipun belum mampu melampaui minyak atsiri dalam hal nilai ekspor, ikan patin menunjukkan potensi pasar yang cukup luas.
Beberapa pabrik dan restoran ala Jepang serta Chinese Food di luar kota menunjukkan kebutuhan yang terus meningkat terhadap pasokan ikan patin dari Trenggalek.
Sentra produksi ikan patin utama terdapat di Kecamatan Karangan dan Kecamatan Watulimo.
“Masih ada juga petani ikan patin di daerah lain yang belum terdata. Tahun ini kami akan mencoba mencatat,” imbuhnya
Selain pencatatan, pada tahun ini Diskomidag berkeinginan melakukan pendampingan dalam standarisasi, sertifikasi, dan uji nutrisi dari ikan patin yang diproduksi di Trenggalek.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa ikan patin yang diproduksi memenuhi standar kualitas yang diperlukan untuk pasar ekspor.
Baca Juga: Pantai Mutiara Trenggalek Overload Ketika Libur Nataru, Pengelola Sampai Bingung Lahan Parkir
“Dengan standar kualitas yang terjamin, pasar ekspor ikan patin diharapkan semakin meluas dan mendapatkan kepercayaan dari konsumen internasional,” papar wanita yang akrab disapa Nurun tersebut.
Disisi lain, Kepala Diskomidag, Saniran menyampaikan bahwa dalam angka meraih pasar internasional saat ini baru ada satu produsen ikan patin dari Trenggalek yang mencoba merambah pasar luar negeri. Langkah ini dianggap sebagai awal yang positif.
“Kami akan terus memberikan dukungan dan pembinaan agar lebih banyak produsen yang mengekspor ke pasar internasional,” tandasnya.
Saniran beranggapan bahwa pasar ikan patin dapat menjadi potensi yang baik bagi nilai ekspor di Trenggalek. Untuk itu saat ini diskomindak masih berupaya memperluas potensi pasarnya.
“Kami yakin ikan patin di sini mampu menjadi salah satu komoditas ekspor yang unggul apabila terus dikembangkan,” tutupnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra