TRENGGALEK - Turonggo Yakso, sebuah kata yang disebut dalam trailer film Sinden Gaib Kisah nyata Trenggalek. kata tersebut ada ketika sosok Sarinten yang merasuki tubuh ayu dan meminta persembahan Turonggo Yakso untuk disiapkan.
Turonggo Yakso sendiri merupakan sebuah tarian berasal dari trenggalek. Tarian yang tergolong dalam seni tari jaranan atau kuda lumping khas trenggalek. Lalu apa itu Turangga yakso? Bagaimana Turonggo Yakso bisa ada di tanah trenggalek?
Dalam sejarah singkatnya yang di jelakan oleh mbak rara yang merupakan guru seni tari yang menjadi korban dari kisah nyata sinden gaib dan merupakan penduduk asli trenggalek serta S1 jurusan seni tari di UNY menjelaskan bahwa kalimat “Turonggo” yang memiliki arti jaran atau kuda dan “Yakso” memiliki arti buto atau raksasa, Jadi penjelasan seni tari Turonggo Yakso sendiri memiliki filosofi seorang kesatria yang menaiki Sebuah raksasa yang miliki tubuh kudadengan memiliki kepala berwujud raksasa yang menyeramkan atau buto.
Sedangkan kepangan jaranan atau emblek yang berbetuk Turonggo Yakso itu sendiri memiliki filosofi dimana manusia harus bisa mengendalikan hawa nafsunya. Turonggo Yakso juga mengibaratkan sebuah nafsu manusia yang liar.
Implementasi bentuk seninya sendiri Turonggo Yakso merupakan sebuah seni tari yang dimana ada seorang penari menggunakan emblek atau sebuah kepang jaranan dari bambu atau rotan dan pecut sebagai aksesoris tarinya. Kepangan jaranan tersebut biasanya di selipkan diantara dua kaki dan salah satu tangan memegang emblek tersebut dan tangan yang lain memegang pecut.
Maksud dari penari yang menggunakan pakaian khas tari ini dan sedang menunggangi emblek merupakan penggambaran seorang kesatria yang sedang menunggangi buto. Pakaian penari Turangga Yakso sendiri memiliki berbagai macam warna.
Pakian yang warna warni menggunakan warna merah, kuning, hitam juga memiliki makna tersendiri. Warna merah memiliki arti sebuah amarah atau emosi sang kesatria dalam menghadapi Turangga Yakso, warna merah juga memiliki unsur api.
Warna hitam menggambarkan sisi gelap dari buto atau Yaksonya, warna Kuning sendiri menandakan nafsu baiknya. Sedangkan udang dan emblem yang ada di pundaknya menggambarkan bahwa penari Turangga Yakso adalah seorang kesatria.
Editor : Luqman Hakim