TRENGGALEK - Film Sinden Gaib yang diangkat dari kisah nyata masyarakat Trenggalek menuai kontroversi.
Pasalnya, salah seorang yang terlibat dalam kisah nyata tersebut mengatakan tidak sama dengan apa yang dialaminya pada tahun 2011.
Film Sinden Gaib bakal tayang di bioskop 22 Februari 2022 tengah diperbincangkan keasliannya oleh masyarakat lokal Trenggalek hingga orang-orang yang terlibat dalam produksi film Selendang Nawang.
Wahyu Rezzer Simatupang salah satunya, ia merupakan sutradara dari film Selendang Nawang yang menjadi asal muasal kejadian mistis terjadi.
Pria yang kerap dipanggil Tupang mengatakan perbedaan yang ada pada film Sinden Gaib dengan apa yang dialaminya waktu itu.
“Lho ini bukannya yang kita alami? Bukan ceritanya loh ya, tapi yang kita alami di tahun itu,"
"Tapi ceritanya nggak gitu loh, tapi ya sudah lah” ungkap tupang dalam video podcast Radar Tulungagung (13/1/2024).
Perlu diketahui, Film Sinden Gaib yang diangkat dari kisah nyata di Trenggalek ini bermula dari sekelompok kru sebuah film yang akan membuat proyek film dokumenter tentang sebuah kesenian yang ada di Trenggalek.
Yaitu, Jaranan Turonggo Yakso dari sisi sang penarinya. Ketiga perempuan tersebut bernama Ayu, Rara, dan Keisya yang menjadi tokoh utama dalam film dokumenter tersebut.
Ketiga remaja itulah yang menjadi korban teror Mbah Sarinten, seorang sinden dari dunia gaib.
Selain itu, beredarnya video podcast antar pemain Selendang Nawang Tupang mengaku baru melihatnya pada Rabu (10/1/2024), sebelum melalukan podcast dengan Radar Tulungagung.
“Dari podcast yang itu, baru semalam saya mendengarkan. Saya dengerin, kok nggak sama ya, tapi yawes lah” ungkapnya.
Meskipun menurutnya berbeda, namun ia tidak ingin terlibat karena sebuah komitmen untuk menutup semua yang pernah dialaminya di tahun 2011 dan juga untuk menghormati atas kesalahan yang dilakukan timnya selama produksi film Selendang Nawang.
“Karena saya benar-benar nggak mau terlibat, nggak mau speak up, karena ya itu tadi kita mempunyai komitmen untuk menutup semuanya, untuk menghormati dan rasa kebersalahan kita atas project itu” lanjutnya.
Disisi lain, Wahyu Simatupang juga merasa bangga dengan adanya film yang diangkat dari Trenggalek dan ia beranggapan perbedaan itu terjadi karena film Sinden Gaib diambil dari sudut pandang pemain.
“Bangga karena dari trenggalek, tapi ceritanya beda karena itu dari sudut pandang pemain” pungkasnya.
Untuk informasi selengkapnya terkait pernyataan Wahyu Simatupang bisa dilihat di akun youtube Radar Tulungagung TV.
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra