TRENGGALEK - Viralnya film Sinden Gaib yang diproduksi oleh Starvision Plus membawa nama-nama pemainnya masuk dalam jajaran aktris dan aktor yang diperhitungkan dalam dunia perfilman.
Nama-nama seperti Sara Fajira dan Riza Syah yang awalnya terkenal sebagai selebgram sebelum memasuki dunia entertainment mendulang popularitas di bumi Menak Sopal, Trenggalek.
Kedekatan keduanya dengan Novita Hardini yang juga merupakan istri Bupati Trenggalek turut menyeret nama keduanya dikenal luas oleh masyarakat Trenggalek.
Sinden Gaib sendiri mengisahkan sosok Ayu yang berbagi tubuh dengan jiwa Sarinten, sinden dari Banyuwangi yang terusir dan menetap di Watu Kandang, Desa Pandean, Trenggalek.
Watu Kandang sendiri merupakan salah satu daerah yang terletak di Desa Pandean, Kecamatan Dongko, Trenggalek yang masih memiliki nuansa alam dan budaya tradisional yang kental.
Watu Kandang sendiri saat ini menjadi salah satu ikon wisata di Kecamatan Dongko dan masuk dalam jajaran desa wisata tingkat nasional.
Lokasi Watu Kandang menjadi awal mula kisah Sinden Gaib dan membawa para tokoh film ini melakukan syuting di Desa Pandean ini.
Sara Fajira berperan sebagai Ayu tentu saja melakukan berbagai adegan syuting di Watu Kandang.
Sara Fajira membagikan pengalaman melakoni syuting di Watu Kandang yang ia bagikan dalam YouTube Starvision Plus.
Sara Fajira mengaku menjadi sosok Ayu yang dirasuki Sarinten menjadi tantangan besar karena harus nyinden lagu Banyuwangi dan melakoni adegan kesurupan berkali-kali.
Meskipun syuting di Watu Kandang terbilang singkat dan melelahkan, tapi hal ini terbayar dengan hasil dari film Sinden Gaib.
Bahkan nuansa mistis yang dirasakan para pemain khususnya Sara Fajira tidak lepas selama syuting Sinden Gaib di Watu Kandang.
Riza Syah sendiri menuturkan bahwa Sara Fajira sempat mengalami kesurupan di lokasi syuting yang menandakan tantangan besar lainnya berlakon sebagai Ayu di film Sinden Gaib.
Sinden Gaib sudah dapat ditonton di bioskop kesayangan mulai 22 Februari 2024 lalu yang terinspirasi dari kisah nyata dari Trenggalek.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra