Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal-Usul Menak Sopal Hingga Legenda Buaya Putih Penguasa Sungai Bagong di Trenggalek

Tia Ozia • Sabtu, 2 Maret 2024 | 20:31 WIB

 

Tugu Pancasila Trenggalek
Tugu Pancasila Trenggalek

TRENGGALEK - Sama seperti daerah lainnya, Trenggalek yang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur ini memiliki legenda tentang asal-usulnya.

Berbagai legenda hingga kini menjadi buah bibir bagi masyarakat Trenggalek. Dimulai dari Menak Sopal, adat dan istiadat di Sungai Bagong, hingga Gajah Putih milik Mbok Rondo Krandon yang pernah menjadi persembahan.

Dilansir radartulungagung.jawapos.com dari YouTube Gromore Studio Series pada 2 Maret 2024, dikisahkan dulu di sebelah barat bumi pardikan Sendang Kamulyan ada sebuah padepokan bernama Padepokan Sinawang.

Berada dibawah kekuasaan Majapahit, Raja memiliki seorang putri bernama Raden Ayu Saraswati memiliki penyakit yang sulit untuk disembuhkan.

Berbagai pengobatan telah dilakukan oleh sang Raja, namun penyakit berbau amis yang dimiliki oleh Raden Ayu Saraswati tidak kunjung sembuh.

Pada akhirnya berkat saran Patihnya, Raja memutuskan mengungsikan putri yang sangat ia cintai tersebut ke Padepokan Sinawang.

Kedatangan Raden ayu Saraswati disambut oleh Ki Ageng Sinawang, sedangkan aroma bau amis yang keluar dari tubuh sang Putri turut mengganggu anak didik di Padepokan Sinawang.

Upaya penyembuhan dilakukan oleh Ki Ageng Sinawang, Raden Ayu Saraswati diobati dengan cara berendam di Sungai Bagong.

Waktu demi waktu berlalu, bau amis di tubuh Raden Ayu Saraswati tidak kunjung hilang dan justru semakin menyengat hingga hampir putus asa.

Suatu hari Raden Ayu Saraswati bertemu dengan seorang pria bernama Sraba yang sedang berenang di Sungai Bagong.

Pria tersebut heran dengan bau amis yang keluar dari tubuh sang Putri. Hingga akhirnya sang Putri meminta bantuan untuk menyembuhkan penyakitnya dengan taruhan ia mau melakukan apapun yang diinginkan oleh pria tersebut.

Dengan kekuatan dalam yang dimiliki oleh Sraba, Raden Ayu Saraswati sembuh dari penyakit bau amisnya.

Sraba pun menagih janji sang Putri, ia berniat menikahi putri kesayangan dari Prabu Majapahit tersebut.

Ki Ageng Sinawang menggelar pernikahan Raden Ayu Saraswati dan Sraba di padepokannya.

Keduanya hidup bahagia di Padepokan Sinawang hingga akhirnya sang Putri mengandung buah cintanya dengan Sraba.

Suatu ketika di tengah beratnya mengandung anak pertama, Sraba meminta izin kepada istrinya untuk melakukan pertapaan.

Sraba berpesan agar tidak membuka satu ruangan yang menjadi tempat pertapaannya. Awalnya sang Putri mematuhi perintah suaminya tersebut, namun seiring berjalannya waktu dan menahan rindu, ia memberanikan diri membuka ruang pertapaan Sraba.

Alangkah terkejutnya Raden Ayu Saraswati, ia justru tidak mendapati suaminya berada di ruangan tersebut melainkan seekor Buaya Putih.

Buaya Putih tersebut ternyata dapat berbicara dan ia mengatakan bahwa ialah Sraba, dan itulah jati diri yang sebenarnya.

Karena sang Putri melanggar pesan dari suaminya tersebut, Buaya Putih pergi meninggalkan Raden Ayu Saraswati yang tengah mengandung.

Sebelum kepergiannya ia berpesan, jika anak yang dikandung sang Putri berjenis kelamin laki-laki diberi nama Menak Sopal.

Itulah asal-usul nama Menak Sopal yang menjadi cerita rakyat ramai dibicarakan masyarakat Trenggalek.***

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#buaya putih #Raden Ayu Saraswati #Sraba #trenggalek #Menak sopal #Padepokan Sinawang