TRENGGALEK - Menak Sopal telah menjadi nama yang abadi dalam legenda bagi masyarakat Trenggalek, salah satunya disematkan menjadi nama stadion sepak bola hingga kini.
Trenggalek menurut cerita memiliki kepanjangan dari Teranging Galih yang berarti benderangnya hati.
Dilansir radartulungagung.jawapos.com dari YouTube Gromore Studio Series pada 2 Maret 2024, Menak Sopal merupakan putra dari Raden Ayu Saraswati dan Sraba yang merupakan jelmaan dari Buaya Putih penguasa Sungai Bagong.
Namun karena Raden Ayu Saraswati tidak mampu memenuhi pesan dari Sraba, sehingga ia harus merelakan suami kembali menjadi Buaya Putih dan pergi ke asalnya.
Seiring berjalannya waktu, Menak Sopal tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan pandai dibawah bimbingan Ki Ageng Sinawang.
Menak Sopal mampu menguasai berbagai ilmu yang diajarkan oleh Ki Ageng Sinawang. Menak Sopal juga berhasil menguasai ilmu ‘malih rupa’ yang membuatnya mampu menjelma menjadi sesuatu yang ia inginkan.
Kecakapan Menak Sopal dalam menguasai berbagai ilmu tidak lain karena peninggalan ayahnya, Sraba.
Menak Sopal juga tumbuh menjadi pemuda yang baik hati dan suka menolong orang di sekitarnya.
Suatu hari kekeringan melanda wilayah di sekitar Padepokan Sinawang. Menak Sopal mencari tahu solusi yang dapat dilakukan supaya sawah dapat panen dan penduduk sekitar tidak kekurangan air.
Menak Sopal mendapat ide untuk membendung Sungai Bagong, ia pun memiliki harapan tinggi atas keberhasilannya.
Namun sayang setiap kali bendungan selesai malamnya bendungan tersebut hancur dan terjadi hingga beberapa kali.
Melihat upayanya sia-sia, Menak Sopal menyelam ke Sungai Bagong untuk mencari tahu penyebab hancurnya bendungan setiap kali ia bangun.
Menak Sopal pada akhirnya mengetahui bahwa ada seekor Buaya Putih penguasa Sungai Bagong yang selalu mengganggu pekerjaannya.
Buaya Putih dan Menak Sopal berdebat pelik dan berkelahi sebelum akhirnya keduanya bersepakat.
Kesepakatan tersebut berisi Menak Sopal harus mengorbankan kepala Gajah Putih ke Sungai Bagong, dengan demikian Buaya Putih tidak akan mengganggu pekerjaannya lagi.
Menak Sopal berpikir keras mencari Gajah Putih untuk memenuhi kesepakatannya dengan Buaya Putih hingga akhirnya ia disarankan pergi ke rumah Mbok Rondo Krandon, karena hanya ia yang memiliki Gajah Putih.
Menak Sopal berniat untuk meminjam Gajah Putih milik Mbok Rondo Krandon selama 3 hari dengan janji akan mengembalikannya.
Seusai mendapatkan Gajah Putih, Menak Sopal pergi ke Sungai Bagong dan menyembelih Gajah Putih serta dipersembahkan lah kepala Gajah Putih ke Buaya Putih di Sungai Bagong.
Sejak itu pula Buaya Putih tidak pernah mengganggu pekerjaan Menak Sopal membangun bendungan di Sungai Bagong.
Berbeda dengan Mbok Rondo Krandon, ia gelisah karena sampai hari yang dijanjikan Menak Sopal tidak kunjung mengembalikan Gajah Putih miliknya.
Ditunggu berhari-hari, Gajah Putih tidak kunjung terlihat, sehingga Mbok Rondo Krandon menggerakkan masyarakat untuk mencari Menak Sopal.
Melihat situasi tersebut, Menak Sopal melarikan diri dan menceburkan dirinya ke Sungai Bagong.
Ki Ageng Sinawang bersama Raden Ayu Saraswati mencoba menjelaskan situasi yang dialami oleh Mbok Rondo Krandon dan Menak Sopal.
Berkat penjelasan keduanya, Mbok Rondo Krandon menerima jika Gajah Putih dipersembahkan demi kepentingan bersama.
Kebijaksanaan dan kemurahan hati Mbok Rondo Krandon tersebutlah dinamai sebagai Teranging Penggalih yang kemudian menjadi nama daerah tersebut dan namanya melebur menjadi Trenggalek.
Sedangkan Menak Sopal, ia diselamatkan oleh Buaya Putih yang tidak lain adalah ayahnya sendiri dan muncul di Sumur Gumuling.
Hingga saat ini bendungan di Sungai Bagong dikenal dengan Dam Bagong.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra