Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Buka Musrena Keren, Bupati Trenggalek Moch Nur Arifin Tampung Aspirasi Perempuan, Anak, dan Disabilitas

Zaki Jazai • Selasa, 5 Maret 2024 | 15:05 WIB

 

BUKAN LAGI MIMPI: Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin memberikan sambutan membuka Musrena Keren di Prigi 360, Senin (4/3).
BUKAN LAGI MIMPI: Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin memberikan sambutan membuka Musrena Keren di Prigi 360, Senin (4/3).

Trenggalek- Musyawarah Perempuan, Anak dan Disabilitas (Musrena Keren) Kabupaten Trenggalek 2024 sukses dilaksanakan, Senin (4/3). Dalam acara yang dihelat di Prigi 360 masuk Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo tersebut, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin tanggapi langsung usulan perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan perempuan menyuarakan tentang ajakan bersama mendorong dan meningkatkan jumlah desa ramah perempuan dan peduli anak. Selain itu, mendorong perempuan untuk mendapatkan pelatihan kepemimpinan di desa dan organisasi masyarakat (ormas) perempuan, hingga meningkatkan literasi hukum bagi perempuan. Ini sebagai pencegahan-penanganan kekerasan pada perempuan dan anak, serta tindak pidana perdagangan orang.

Tak hanya itu, ada juga permintaan meningkatkan pendidikan politik bagi perempuan. Baik pemahaman tentang hak asasi manusia, hak asasi perempuan, dan hak asasi anak. Di samping itu menumbuhkan kepekaan kesadaran dan komitmen dalam menegakkan keadilan gender, advokasi kebijakan meningkatkan minat perempuan untuk berperan aktif dalam organisasi atau lembaga politik.

“Aspirasi ini akan kami tampung apalagi juga ada permintaan untuk melanjutkan 5.000 wirausaha perempuan melalui ecommerce, pendampingan usaha dan kemudahan akses permodalan,” ujar Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin.

“Juga meningkatkan keterampilan konselor desa dan kuota bagi perempuan kepala keluarga (pekka, Red) untuk memperoleh BPJS Ketenagakerjaan yang merupakan program kami,” imbuhnya.

Sedangkan aspirasi dari perwakilan anak di antaranya, permintaan sekolah gratis sampai jenjang sekolah menengah. Fasilitasi anak putus sekolah agar bisa kembali bersekolah. Ada juga edukasi tentang pencegahan perkawinan anak, dan pelatihan kepada orang tua agar menjadi orangtua hebat. Edukasi tentang internet sehat, serta aman juga penting dilakukan. Tertibkan tempat-tempat yang berisiko menimbulkan seks bebas, miras, dan rumah pintar untuk mengembangkan kreativitas dan bermain yang ramah anak.

Kemudian perwakilan penyandang disabilitas, selain mengajukan saran, juga berterima kasih kepada Bupati Trenggalek. Pasalnya, tahun ini sejumlah 667 orang penyandang disabilitas telah mendapatkan BPJS Ketenagakerjaan. Mereka berharap jumlah itu bisa bertambah pada 2025 mendatang. Permohonan lain BPJS Kesehatan untuk seluruh penyandang disabilitas di Kabupaten Trenggalek.

Selain itu juga ada usulan edukasi pencegahan kekerasan kepada penyandang disabilitas, pendidikan kesetaraan melalui kejar paket A dengan Pamong Guru SLB atau guru khusus pada lokasi yang terjangkau. Peningkatan kapasitas guru reguler menjadi guru pendamping khusus untuk mata pelajaran Bahasa Isyarat, serta kesempatan kerja kepada disabilitas sebanyak satu persen di sektor swasta, dan dua persen di sektor pemerintah. Ada pula terbentuknya desa yang ramah perempuan, anak dan disabilitas.

“Dari semua usulan yang langsung saya respon itu, Pekerjaan rumah (PR) terbesar ada di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). Bagaimana mengaplikasi mendorong seluruh desa untuk desa ramah perempuan, anak, dan disabilitas,” jelas Bupati Ipin, sapaan Moch. Nur Arifin.

Orang nomor satu di lingkup Pemkab Trenggalek itu juga meminta agar seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) punya data terpilah gender. Dengan begitu, pembangunan manusia yang berbasis gender benar-benar berbasis data. Sedangkan indeks pembangunan gender Kabupaten Trenggalek kini 93 persen, artinya masih ada tujuh persen agar mendapatkan nilai 100, sehingga terjadi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Diharapkan hal tersebut bukan lagi cita-cita melainkan bisa terealisasi. Mengingat telah delapan tahun kebersamaannya selama ini. Apalagi kini masih sering ada laporan dari kepala desa dan berbagai pihak melalui telepon. Kebanyakan laporan tersebut mau berobat tapi tidak punya biaya dan minta keringanan. Dari situ diharapkan berbagai upaya bisa dilakukan seperti menggratiskan biaya perawatan di rumah sakit kelas 3.

“Saya ingin ke depan cerita-cerita tentang kesuksesan ini bukan keluar dari mulut bupati atau pejabat di sini. Melainkan keluar dari aksi-aksi yang dilakukan,” jelas pria ramah itu. (jaz/wen)

Editor : Whendy Gigih Perkasa
#prigi 360 #Pemkab Trenggalek #trenggalek