Trenggalek- Para ibu rumah tangga harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli daging ayam potong. Sebab, harga daging unggas tersebut terus melejit. Awal Ramadhan ini, daging ayam potong dijual sekitar Rp 38 per kilogram.
Informasi yang berhasil dihimpun dari sejumlah pedagang di Pasar Basah Trenggalek, harga ayam potong minggu lalu hanya sekitar Rp 37 ribu per kilogram. Bulan lalu, sekitar Rp 33 ribu per kilogram. Artinya, ada kenaikan Rp 5 ribu per kilogram. “Sudah sejak awal bulan harga daging ayam mengalami kenaikan,” ujar Sugiati, pedagang daging ayam.
Wanita ramah itu mengaku, meski harga relatif tinggi, dia bersyukur. Sebab, pembeli cukup banyak. Artinya, permintaan daging ayam potong masih tinggi. “Masih banyak yang beli walau harganya naik,” imbuhnya.
Para pedagang tidak mengetahui pasti penyebab kenaikan harga tersebut. Namun mereka menganggap kenaikan itu hal biasa. Utamanya saat momen besar seperti Ramadhan dan Idul Fitri. Begitu juga permintaan yang ikut naik. “Setiap tahun jelang puasa Ramadhan memang biasanya harga naik,” tutur seorang pedagang lainnya, Ririn Puji.
Kenaikan harga daging ayam ini diprediksi akan terus berlanjut selama Ramadhan. Bahkan tidak hanya daging ayam. Harga beberapa bahan pokok dan bumbu dapur juga naik. Gula kini berada di kisaran Rp 16 ribu per kilogram, naik sekitar seribu rupiah dari harga bulan lalu. Sementara itu, harga telur kini mencapai Rp 31 ribu per kilogram, naik sekitar dua ribu rupiah dari bulan sebelumnya. Cabai rawit merah juga mengalami kenaikan harga menjadi Rp 55 ribu per kilogram, naik sekitar lima ribu rupiah dari bulan sebelumnya.
Meskipun begitu, ada beberapa komoditas yang tetap stabil dalam harga, seperti minyak yang masih berada di angka Rp 15 ribu per kilogram. Bahkan, harga beras mengalami penurunan menjadi sekitar Rp 13 ribu per kilogram untuk jenis medium.
Kenaikan harga bahan pokok ini menjadi perhatian bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang ekonominya lebih rentan. Pemerintah daerah diharapkan terus melakukan pemantauan dan langkah-langkah strategis untuk mengendalikan kenaikan harga tersebut, sehingga tidak memberikan dampak yang terlalu berat bagi masyarakat jelang bulan Ramadhan. Di samping itu, masyarakat juga diimbau untuk bijak dalam mengelola pengeluaran dan memanfaatkan program-program pemerintah yang ada untuk mengurangi dampak kenaikan harga bahan pokok. (kho/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa