Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Baca Alquran Braille, Semangat Siswa SLB Kemala Bhayangkari Semangat Berburu Berkah Ramadhan

Akhmad Nur Khoiri • Selasa, 2 April 2024 | 15:05 WIB
SEMANGAT: Siswa SLB Kemala Bhayangkari membaca Alquran braille.
SEMANGAT: Siswa SLB Kemala Bhayangkari membaca Alquran braille.

TRENGGALEK- Ramadhan bulan penuh berkah. Mayoritas muslim berlomba mendapatkan pahala selama bulan suci itu. Tak terkecuali siswa SLB Kemala Bhayangkari, Kelurahan Surodakan, Kecamatan Trenggalek. Tak hanya berpuasa, mereka juga mengaji Alquran dibimbing para guru.

Keterbatasan bukanlah halangan. Inilah yang tepat menggambarkan siswa SLB Kemala Bhayangkari. Selama Ramadhan ini, mereka tetap semangat menimba ilmu di sekolah. Berangkat pagi hari dari rumah, dan mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Nah, seperti halnya sekolah lain, ada program pondok Ramadhan di tempat siswa berkebutuhan khusus itu belajar. Dengan begitu, mereka tak hanya sekadar berpuasa. Namun juga bisa ikut berburu berkah dengan melaksanakan kegiatan lain yang bermanfaat.

Salah satu kegiatan yang dimaksud, yakni mengaji Alquran. Yang menarik, ada sejumlah siswa dengan keterbatasan penglihatan semangat membaca kitab suci tersebut. Tentu bukanlah Alquran regular menggunakan huruf Arab. Melainkan huruf braille. 

Di salah satu ruang kelas, siswa itu mulai membaca Alquran braille. Jarinya meraba lembaran dengan pola khusus itu. Perlahan tapi pasti. Mereka bisa melantunkan ayat suci. Semua siswa terlihat antusias. Sesekali berhenti menghela nafas, kemudian melanjutkan kembali.

Kepala SLB Kemala Bhayangkari, Yessy Kurniawati mengatakan, anak didiknya sudah mulai belajar Alquran sejak masih kelas I SD. Tentu saja, para guru harus lebih telaten dalam mengajar. Selain itu, menggunakan metode yang tepat agar siswa mau dan bisa cepat membaca.

"Pengenalan itu sebenarnya mulai kelas satu, tapi tetap seperti anak reguler dengan bertahap dari Iqro’ kemudian nanti pengenalan braille-nya," ujarnya.

Yessy mengatakan, agenda membaca Alquran tersebut merupakan rangkaian Pondok Ramadhan. Itu yang dilaksanakan 1-2 April. “Yang mengikuti kegiatan ini dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tuna daksa, dan autis, semua ikut,” imbuhnya.

Untuk mulai membaca Alquran braille, lanjut wanita ramah itu, dimulai sejak kelas IV. Biasanya anak-anak mulai lancar membaca Alquran braille sejak kelas VII. Yakni dengan diselingi ekstrakurikuler musabaqoh tilawatil quran (MTQ).

Yessy melanjutkan, ada beberapa anak didiknya yang mampu menghafal beberapa ayat suci Alquran, sebelum mampu membaca Alquran braille. "Biasanya anak itu hafal duluan baru bisa memegang dan membaca yang braille. Sebab, bagi mereka itu lebih mudah untuk mendengarkan," jlentrehnya.

Sementara itu, salah seorang siswa SLB Kemala Bhayangkari, Alma Maghfiroh mengatakan, sudah belajar membaca Alquran braille sejak kelas I. "Seneng belajar Alquran, karena bisa membaca," ungkapnya.

Siswa yang juga telah menghafal empat juz itu juga pernah menyabet gelar juara membaca Alquran. "Pernah ikut lomba di Lamongan dan dapat juara," imbuhnya. (*/wen)

Editor : Whendy Gigih Perkasa
#alquran #tuna netra #ramadhan