TRENGGALEK - Momen lebaran hari ketujuh bertambah meriah kala Gebyar Ketupat di lingkungan Desa/Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, Selasa (16/4/2024).
Kemeriahan itu pasca para warga saling berebut tumpeng dalam rangkaian gebyar ketupat.
Tak cuma itu, penikmat masakan ketupat bukan hanya dinikmati oleh warga desa, tapi juga para pengguna jalan melintas.
Ketua Penyelenggara Gebyar Ketupat Desa/Kecamatan Panggul Mulyono membenarkan bahwa kegiatan ini sudah memasuki tahun kelima dan kegiatan ini tetap bertahan karena antusiasme warga masih tinggi.
“Gebyar Ketupat ini rutin tiap tahun, tiap H+7 Lebaran,” ungkapnya, usai prosesi arak-arakan tumpeng Ageng.
Mulyono mengaku, gebyar ketupat di Desa Panggul baru ada sejak 2019. Dan, itu terilhami ketika warga antusias membuat ketupat, meski hanya untuk lingkup keluarga.
“Seiring itu, daripada cuma individu, pemdes merangkul semua, dan masing-masing kepala dusun (kasun) berembuk untuk mengumpulkan (ketupat, Red),” ujarnya.
Secara teknis, gebyar ketupat Desa Panggul diikuti 22 RT yang terdiri dari empat dusun, yakni Bangkalan, Kebon Agung, Panggul, dan Mandata.
“Kupat buatan para ibu-ibu di tiap RT ini disetor ke kasun (skema awal gebyar ketupat 2019, Red), ” ungkapnya. Penyelenggaraan Gebyar Ketupat kini sebagian sudah dianggarkan pemerintah desa.
Sebab itu, rangkaian gebyar ketupat lebih banyak. Mulai dari arak-arakan tumpeng ageng, maka dan doa bersama, hingga perlombaan untuk warga desa.
“Arak-arakan Tumpeng Ageng sebagai simbol kepada leluhur, khususnya cikal bakal desa Panggul, Panji Nawangkung,” jelasnya.
Mewakili warga desa, Mulyono berharap, Gebyar Ketupat hingga 1000 ketupat ini dapat memperluas jalinan tali silaturahmi antar warga.
“Mudah-mudahan, menjalin tali persaudaraan, tidak datang kunjung, tapi melalui gebyar ketupat ini dapat menjadi wadah untuk bersilaturahmi di balai desa,” tuturnya.
Sementara itu, Kades Panggul Suharto mengatakan, tujuan utama dari gebyar ketupat adalah menjalin silaturahmi setelah merayakan hari raya idulfitri.
Kemudian, acara itu juga untuk mengenang sosok babat desa Panggul, Panji Nawangkung.
“Karena Mbah Panji Nawangkung ini adalah cikal bakal dari kerajaan dari kerajaan Yogyakarta, Hadiningrat,” ujarnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra