Trenggalek- Perayaan Lebaran Ketupat di Kecamatan Durenan digelar kemarin (17/4). Dalam momen tersebut, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin dan Wakil Bupati Trenggalek Syah Nata Negara, bersama jajaran forkopimda, sowan ke sejumlah tokoh ulama di Kecamatan Durenan. Salah satunya ke Ponpes Babul Ulum yang diasuh oleh KH Abdul Fatah Mu’in. Dia merupakan salah satu keturunan Kiai Abdul Masir atau Mbah Mesir.
Seperti diketahui, Mbah Mesir merupakan tokoh yang mengenalkan tradisi Kupatan di wilayah Durenan. Tradisi Kupatan yang sudah berlangsung selama ratusan tahun ini terus dilestarikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek.
“Beberapa tahun terakhir digelar Festival Kupatan yang kita masukkan dalam kalender event Kabupaten Trenggalek. Selain melestarikan budaya, tentunya untuk meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat Trenggalek,” ujar Bupati Ipin, sapaan Mochamad Nur Arifin.
Tidak hanya dinikmati warga di Kecamatan Durenan, tradisi Kupatan juga menyebar di wilayah lain. Di antaranya, Kecamatan Trenggalek, Tugu, Panggul, dan lainnya. Bupati Ipin bahkan membagikan paket ketupat bertajuk “War Ketupat Gratis” kepada warga di seputaran kota Trenggalek. Ada sekitar 200 paket ketupat gratis yang dikirim melalui aplikasi Blojek. Begitu banyak warga yang berminat. Bahkan hanya beberapa menit ditawarkan, paket ketupat gratis langsung ludes. “Ya namanya war ketupat, yang pesen cepet bisa langsung dapat,” katanya.
“Alhamdulillah, semakin banyak masyarakat yang ikut sukacita merayakan Lebaran Ketupat. Semoga semangat berpuasa di bulan Syawal juga mulai menjadi kebiasaan bagi masyarakat,” imbuh pria ramah itu.
Tradisi Kupatan di Durenan juga diisi arak-arakan gunungan ketupat dan hasil bumi. Keduanya diarak mulai dari kediaman kepala desa (Kades) Durenan, Ponpes Babul Ulum, dan berakhir di lapangan Durenan. Sejak start, dua gunungan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Sebab, keduanya bakal diperebutkan di lapangan usai diarak keliling desa. Tradisi Kupatan ini menjadi agenda rutin tiap tahun. Tepatnya pada H+7 Idul Fitri.
Informasi yang berhasil dihimpun Jawa Pos Radar Trenggalek, tradisi Kupatan berawal di Ponpes Babul Ulum. Yakni sejak ratusan tahun lalu. Kala itu dipimpin Mbah Mesir. "Orang yang ke sini (Ponpes Babul Ulum, Red) ini memang murni untuk silaturahmi atau sowan. Kalau di daerah lain mungkin ramai karena ada hiburan dan sebagainya," jelas Pengasuh Ponpes Babul Ulum Durenan, Kiai Fatah Muin.
Kemeriahan terlihat jelas ketika gunungan ketupat dan hasil bumi tiba di lapangan Durenan. Ratusan orang sudah memadatai kawasan tersebut. Mereka langsung menyerbu untuk mendapatkan Kupatan ataupun hasil bumi dari gunungan itu. Tak sedikit yang beranggapan bahwa ketika mendapat ketupat dari gunungan itu bakal mendapat berkah.
“Senang bisa dapat walaupun hanya dua ketupat. Intinya sukacita, bersyukur. Semoga bisa dapat berkah, bertemu dengan Ramadan tahun depan,” ungkap Wijiasri, salah seorang warga yang ikut berebut gunungan ketupat. (kho/c1/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa