Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sawah di Trenggalek Mayoritas Tadah Hujan, Kementan Detailkan Bantuan agar Lebih Sesuai

Zaki Jazai • Jumat, 26 April 2024 | 16:35 WIB
HARUS MENINGKAT: Satu unit mesin traktor bantuan dari Kementan yang tengah dioperasikan di persawahan Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari.
HARUS MENINGKAT: Satu unit mesin traktor bantuan dari Kementan yang tengah dioperasikan di persawahan Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari.

 

Trenggalek- Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Trenggalek wajib mengawasi para kelompok tani di wilayahnya. Pasalnya, beberapa di antaranya baru saja mendapatkan bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan).

Bantuan yang diberikan cukup banyak. Yakni, ada 53 unit pompa air. Kementan juga menyerahkan bantuan satu unit traktor kepada Kelompok Tani Sedono Makmur, Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari. Bantuan tersebut merupakan salah satu langkah Kementan untuk sukseskan penambahan areal tanam (PAT) di Jawa Timur (Jatim), khususnya di Trenggalek.

"Tidak dipungkiri kondisi pangan kita kini terganggu dengan adanya anomali iklim. Ada hujan dua minggu lalu, tiba-tiba berhenti. Sementara sawah petani, kebanyakan tadah hujan," ungkap Direktur Jenderal (Dirjen) Perkebunan Kementan, Andi Nur Alam Syah, saat berkunjung ke Trenggalek, Kamis (25/4).

Berdasarkan data Kementan, di Jatim ada sekitar 300 ribu hektare sawah tadah hujan. Petani kerap tak bisa memaksimalkan lahan itu untuk produksi lantaran terbatasnya air. Hal itulah yang mendorong Kementan optimalisasi pompa untuk mengejar defisit pertanian. "Tidak dipungkiri, Jatim adalah salah satu lumbung pangan terbesar nasional. Kalau Jatim terganggu, maka nasional juga terganggu," katanya.

Pria ramah itu melanjutkan, itu seperti yang terjadi di Kabupaten Nganjuk. Di sana terdapat lahan sawah tadah hujan yang hanya bisa tanam padi satu kali dalam setahun atau tiga kali tanam, tapi hanya panen satu kali. Hal itu sungguh ironi, mengingat sawah tersebut hanya berjarak sekitar 10 meter dari Sungai Widas. Karena itu, perlu optimalisasi menggunakan pompa. Begitu juga sawah tadah hujan di Trenggalek yang harus dioptimalkan dengan mendorong bantuan sumur dalam.

Untuk itu, kini Kementan tengah mendetailkan kebutuhan petani di Jatim termasuk di Trenggalek. Selanjutnya disesuaikan dengan kondisi lapangan. Detail kebutuhan dilakukan agar tidak ada bantuan yang mangkrak, dengan alasan karena pompa dan pipa tidak sesuai spesifikasi yang dibutuhkan di lapangan.

"Kami akan detailkan bantuan agar segera mendapatkan bantuan pompa dari pemerintah pusat. Target kami produksi (beras, Red) harus naik 30 persen," jelas Andi.

Suwito, salah seorang petani, mengaku bahwa cuaca kini tak bersahabat karena cepat berubah. Petani lebih sulit memperkirakan musim. Hal ini berdampak terhadap hasil produksi. “Tanam padi, tapi ternyata hujan tidak turun cukup lama. Sebaliknya, terlanjur tanam biji-bijian, ternyata malah curah hujan tinggi,” ungkapnya. (jaz/c1/wen)

Editor : Whendy Gigih Perkasa
#hujan #pertanian #sawah