Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Mufid Asnawi dan Siti Ngaisah, Pasutri Penjual Pentol Naik Haji

Zaki Jazai • Rabu, 15 Mei 2024 | 15:05 WIB

BAGIAN IKHTIAR: Mufid Asnawi dan istrinya Siti Ngaisah, sedang menyiapkan pentol dagangannya untuk para pelanggan.
BAGIAN IKHTIAR: Mufid Asnawi dan istrinya Siti Ngaisah, sedang menyiapkan pentol dagangannya untuk para pelanggan.
 

Siapa yang menyangka jika Mufid Asnawi, 62, dan istrinya Siti Ngaisah, 59, merupakan calon jamaah haji (CJH) 2024 dari Bumi Menak Sopal, yang bekerja sebagai penjual pentol. Tapi itulah nyatanya. Pasangan suami istri (pasutri) itu sukses menyisihkan rejekinya untuk mendaftar dan melunasi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Bersama CJH Trenggalek lainnya, mereka direncanakan berangkat ke Tanah Suci pada 6 Juni mendatang.

Suasana lebaran masih terasa di sebuah rumah sederhana yang berada di wilayah, Dusun Brongkah, Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Jumat (10/5). Hal tersebut terlihat dari berbagai kue kering jajanan khas lebaran masih tersedia di ruang tamu. Saat Jawa Pos Radar Trenggalek ini masuk rumah tersebut, terlihat sepasang suami istri yang ramah menyapa. Ya, merekalah Mufid Asnawi, dan Siti Ngaisah.

Ternyata, jajanan yang ada tersebut memang sengaja dipersiapkan bagi tamu yang datang. Bukan hanya untuk ajang silaturahmi khas lebaran, melainkan juga menyambut para tamu yang datang berkunjung karena ingin mengucapkan selamat dan doa kepada mereka yang akan pergi haji tahun ini.

“Kini kami sudah tidak berdagang lagi, karena ingin menyiapkan tasyakuran dan meminta doa kepada para kerabat serta tetangga sebelum berangkat (pergi haji, Red). Semoga di sana (Tanah Suci, Red) bisa lancar beribadah dan pulang lagi dengan selamat,” ungkap Mufid Asnawi.

Setelah itu dirinya dan sang istri mulai bercerita tentang kisahnya sebagai penjual pentol hingga bisa pergi haji. Ternyata semula dirinya berjualan pentol karena setelah menikah bingung mencari pekerjaan. Dari situ, Mufid melihat tetangganya yang berjualan pentol cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Gayung Pun bersambut, saat itu dirinya mendapat tawaran dari tetanggaitu untuk mengikuti jejaknya berjualan pentol. Akhirnya tetangga tersebut mengajarkan membuat pentol. Termasuk menyarankan tempat untuk berdagang.

“Saya mulai berjualan pentol ini sekitar 1992. Dulu naik sepeda pancal berjualan keliling mulai dari lapangan Durenan, ke sekolah TK, SD, SMP, SMA pada pagi hari, hingga ke musala-musala tempat anak mengaji pada sore hari,” katanya.

Ketika itu, dirinya sehari hanya menghabiskan sekitar 1,5 kilogram bahan. Yakni berupa tepung kanji dan tepung terigu. Modal sebesar Rp 1.500. Jika habis maka  bisa pulang membawa uang sebesar Rp 4 ribu, sehingga setiap harinya ada laba sekitar Rp 2.500. Sedangkan saat ini dalam setiap harinya pria yang akrab disapa Mufid tersebut menghabiskan bahan baku pentol sebanyak 10 kilogram, dengan dicampur daging ayam seberat 2 kilogram untuk menambah cita rasa.

“Jika dinominalkan sekarang modal kami sekitar Rp 300 ribu, dan jika habis nanti total mendapat sekitar Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu,” jlentrehnya.

Seiring berjalannya waktu, sekitar 2011 lalu dia melaksanakan jagong haji (berkunjung ke rumah orang yang baru pulang haji, Red) ke salah satu saudaranya. Seperti orang pada umumnya, bapak tiga anak ini meminta doa supaya mendapatkan keberkahan dan bisa menyusul. Dari situ dirinya memiliki keinginan kuat untuk pergi haji. Namun, kerinduan untuk ke Baitullah mendapatkan gejolak hati lantaran kondisi perekonomian yang serba sederhana dari penghasilan berjualan pentol. Sehingga kala itu, setiap malam dirinya seperti orang gila, karena selalu menangis agar bisa naik haji.

Tidak disangka dengan keinginan yang kuat, pada Januari 2012 dirinya bisa mendaftar. Proses pendaftaran tersebut lewat program haji talangan, sebab kala itu dirinya belum bisa membayar lunas biaya pendaftaran haji sebesar Rp 25 juta. Karena itulah dirinya mengambil biaya haji talangan tersebut dengan jangka waktu sekitar lima tahun. “Dari situ saya mengukur kemampuan untuk ikut haji talangan, jika dua tahun berarti saya harus menabung sekitar Rp 500 ribu tiap bulan, dan pastinya bisa,” jelas Mufid.

Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan sang istri Siti Ngaisah. Karena keteguhan sang suami tersebut dirinya juga memiliki tekad yang kuat untuk pergi ke Tanah Suci. Dari situ berselang dua bulan yaitu pada Maret di tahun yang sama, dirinya juga ikut mendaftar. Dari situ, dalam jangka lima tahun, mereka mengumpulkan hasil menjual pentol, dan syukurlah ternyata sebelum lima tahun sudah lunas, bahkan lebih dahulu dari sang suami.

“Dengan keinginan yang kuat itu setiap harinya saat berjualan kami punya komitmen, kalau belum habis (pentol, Red) belum berhenti melayani pembeli," imbuhnya.

Bersama-sama pergi ke Tanah Suci membuat meraka bersyukur. Hal tersebut tampak dari raut wajah pasutri tersebut yang berbinar-binar menceritakan kehidupan selama berjualan pentol hingga bisa benar-benar menunaikan rukun Islam yang kelima. Apalagi saat ini  semakin dekatnya keberangkatan CJH dan banyaknya kegiatan manasik haji baik dari Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Trenggalek serta dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), membuatnya sejak Senin (6/5) lalu untuk sementara waktu beristirahat berjualan. ”Sebenarnya banyak langganan yang menanyakan kenapa lama tidak berjualan, lantas setelah kami memberi tahu bahwa sebentar lagi berangkat ibadah haji, tak lupa mereka meminta doa supaya diberi kelancaran dan menjadi haji yang mabrur,” jelas nenek satu cucu tersebut.(jaz/wen)

Editor : Whendy Gigih Perkasa
#tanah suci #trenggalek #haji