Trenggalek- Pantai Mutiara memiliki hamparan pasir yang indah dan dapat memikat wisatawan. Tak hanya pasirnya, tempat wisata yang berada di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, itu memiliki pesona bawah laut berupa terumbu karang yang menakjubkan.
Di balik keindahan itu, pantai tersebut sempat mengalami kerusakan. Hal ini lantaran menjadi tempat penangkapan ikan yang tak semestinya. Para pemburu lobster dan ikan dulunya menggunakan teknik bombing (pengeboman) untuk mendapatkan hasil melimpah. Mereka juga menggunakan potas. Cara tersebut merupakan praktik ilegal yang dapat merusak ekosistem laut dan kehidupan masyarakat pesisir.
“Dulunya terumbu karang ini korban bombing, potas untuk perburuan lobster, hingga ikan hias yang diperjualbelikan,” ujar Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin beberapa waktu lalu.
Mas Ipin -sapaan Bupati Moch. Nur Arifin- mengatakan, hal tersebut menyebabkan kerusakan pada terumbu karang dan membunuh berbagai spesies laut di sekitarnya. Efek kerusakan akibat aktivitas itu membuat ekosistem di Pantai Mutiara sempat berada dalam status memperihatinkan. Dapat dilihat dari pesisir Pantai Mutiara yang pasirnya berasal dari serpihan terumbu karang.
“Jadi, pasir di sini (Pantai Mutiara, Red) terlihat putih karena adanya serpihan karang yang sudah mati dan terbawa ke daratan,” katanya.
Meski demikian, lanjut Mas Ipin, kini ekosistem dasar laut Pantai Mutiara telah membaik. Kondisi ini dapat terjadi berkat adanya proses rehabilitasi menggunakan metode transplantasi terumbu karang. "Berbagai program rehabilitasi terumbu karang dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat lokal dalam upaya konservasi dan pelestarian lingkungan," jelasnya.
Dia berpesan kepada wisatawan maupun masyarakat lokal agar menjaga kelestarian lingkungan di Pantai Mutiara. "Sekarang anak muda itu perjuangan salah satunya adalah kemerdekaan dalam hal keberlanjutan ekologi," tegasnya.
Melalui pelestarian lingkungan, dia berharap ekoturisme dapat berkembang secara berkelanjutan dan tidak merusak ekosistem yang ada. "Dari perjalanan panjang ini dapat kita ambil pelajaran, bahwa dari kehancuran, kita bisa membangun sesuatu yang lebih baik di masa mendatang," tandasnya. (kho/c1/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa