Trenggalek- Kasus HIV/AIDS di Bumi Menak Sopal tak bisa dianggap remeh. Sebab, hingga kini tercatat ada sekitar 329 pengidap atau orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Jumlah itu tersebar dari berbagai usia. Mulai anak-anak hingga dewasa.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek, Sunarto mengatakan, laporan kasus HIV/AIDS hingga kini memang cukup tinggi. Sebagian besar penularan melalui seks bebas. "Untuk kasus HIV/AIDS di Trenggalek, dari catatan kami yang terdeteksi sebanyak 329 kasus," ujarnya.
Dia melanjutkan, penularan HIV/AIDS juga terjadi melalui pasangan suami istri (pasutri). Yakni, pihak suami ataupun istri yang memang sudah berstatus ODHA. Alhasil, bayi yang dilahirkan juga berpotensi tertular.
Berdasar data dinkesdalduk KB, kasus HIV/AIDS di Trenggalek tersebar dalam berbagai rentang usia. Di antaranya, usia di bawah 4 tahun terdapat 3 kasus, anak berusia 5 sampai 9 tahun terdeteksi 6 kasus, dan anak usia 11 sampai 19 tahun sebanyak 4 kasus. Kemudian, kelompok usia 20 sampai 29 tahun terdeteksi 60 kasus, sedangkan usia 30 sampai 39 tahun tercatat 95 kasus.
"Yang terbanyak adalah pada rentang usia 40 sampai 49 tahun dengan total 112 kasus. Untuk usia 50 sampai 60 tahun ke atas, totalnya ada 49 kasus," jelas Sunarto.
Menyikapi hal tersebut, dinkesdalduk KB tak lantas tutup mata. Ada berbagai upaya yang dilakukan untuk menekan jumlah kasus HIV/ADIS. Bahkan sudah ada anggaran untuk berbagai program guna mencegah bertambahnya ODHA. "Langkah pemerintah meliputi sosialisasi di kalangan siswa SMP dan SMA, skrining pada ibu hamil, dan pengobatan untuk populasi kunci,” kata pria ramah itu.
“Selain itu, kami juga menyediakan konseling sebelum pengobatan dan pemberian profilaksis TBC," imbuhnya.
Sunarto berharap masyarakat dapat lebih memahami dan menyadari penyebab atau penularan HIV/AIDS. Hal ini supaya masyarakat dapat meningkatkan kesadaran untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut. Dinkesdalduk KB Trenggalek berupaya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat guna mencegah lonjakan kasus HIV/AIDS di masa mendatang. "Semoga tidak ada lonjakan kasus HIV/AIDS di Trenggalek. Dengan ini, kami berupaya untuk memberikan edukasi kepada masyarakat," tuturnya.
Adanya langkah-langkah yang proaktif diharapkan dapat menekan angka kasus HIV/AIDS di Kota Alen-Alen. Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang terinfeksi melalui penanganan yang lebih baik dan edukasi yang berkesinambungan. (kho/c1/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa