Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bikin Nangis, Begini Penuturan Budi Ismanto, Warga Desa Sukorejo,Kecamatan Gandusari, Korban TPPO yang Selamat

Akhmad Nur Khoiri • Selasa, 23 Juli 2024 | 02:00 WIB
SEHAT: Budi Ismanto berada di rumahnya setelah berhasil dipulangkan oleh pemerintah  pasca terkatung-katung di negeri orang.
SEHAT: Budi Ismanto berada di rumahnya setelah berhasil dipulangkan oleh pemerintah pasca terkatung-katung di negeri orang.

TRENGGALEK- Nasib pilu dialami Budi Ismanto. Warga Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari itu menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Dia tak sendiri, melainkan bersama 10 rekannya dari Tulungagung. Beruntung, mereka berhasil selamat setelah sempat terlantar di negeri orang.   

Budi bisa bernafas lega setelah akhirnya bisa kembali pulang berkumpul bersama keluarga. Wajahnya sumringah saat Jawa Pos Radar Trenggalek berkunjung ke rumahnya, Senin (22/7). Dia pun menceritakan pengalaman pahitnya lantaran jadi korban TPPO, dan 14 hari terkatung-katung di negara lain. 

Awalnya, Budi mendapatkan informasi pekerjaan dari temannya yang juga merupakan korban TPPO asal Tulungagung. Kala itu, Budi mau berangkat lantaran untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan ekonomi. "Saya diajak teman untuk bekerja di Timor Leste," ungkapnya.

Ketika proses pemberangkatan, tidak ada tanda-tanda bakal ditupu. Sebab, seluruh biaya pemberangkatan ditanggung perusahaan. Selanjutnya, dikenakan potong gaji. Bahkan, Budi mengaku sempat menandatangani surat kontrak antara dirinya dan pihak perusahaan di bidang konstruksi. "Dalam surat perjanjian, saya dikontrak satu tahun. Tapi saya tidak memiliki salinannya," ujarnya.

Budi bersama 10 rekannya akhirnya berangkat. Tujuannya, Timor Leste. Tiba di sana, dia awalnya bekerja sebagai pembuat pagar dan pencuci mobil. Namun, mereka tak mendapatkan tempat tinggal. Hanya diberi uang makan. "Tempat tinggal belum siap, kami yang menyiapkan. Terus dikasih uang 150 dolar untuk membeli bahan makanan dan alat dapur," katanya.

Di tempat tersebut, Budi dan rekannya bekerja selama 14 hari. Setelah itu, mereka diberhentikan secara sepihak oleh perusahaan. Tak ada alasan yang jelas mengapa mereka kena pemutusan hubungan kerja (PHK). "Tidak tahu alasannya kenapa di-PHK. Kami tidak menerima gaji sama sekali dan ditinggalkan di perbatasan (Timor Leste-Indonesia)," jelasnya.

Ketika ditinggalkan diperbatasan itulah, Budi dan 10 rekannya kebingungan. Mereka tak tahu harus kemana. Terlebih uang yang dibawa minim. Akhirnya mereka berinisiatif menyewa pikap. "Kami menyewa seharga Rp 250 ribu dan berhenti di salah satu masjid," ungkapnya.

Di masjid tersebut, Budi dan rekannya berniat untuk menginap. Beruntung, ada warga setempat yang lentas mengantar mereka ke perkampungan Jawa. Di Belu Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), dirinya menunggu selama empat hari sebelum akhirnya dihubungkan dengan paguyuban di Kupang.

Setibanya di Kupang, dirinya menginap selama 10 hari sembari menunggu koordinasi dengan pemerintah setempat dan tiket kapal. "Akhirnya bisa naik kapal selama tiga hari dan sampai di Pelabuhan Perak, Surabaya. Lalu dijemput untuk transit di Tulungagung sebelum akhirnya diantarkan sampai ke rumah (Trenggalek, Red)," terang Budi.

Sebelumnya, Budi telah dua kali bekerja di luar negeri. Yakni di Aljazair, Afrika Utara, dan Gabon, Afrika Tengah. Pengalaman pahit di Timor Leste itu ternyata tak menyurutkan semangat Budi untuk merantau. Dia pun siap berangkat jika memang ada tawaran bekerja. "Tapi nanti kalau ada pekerjaan lagi ya berangkat. Karena memang untuk memenuhi kebutuhan," ungkap pria ramah itu.

Sementara itu, keluarga di rumah pada mulanya belum mengetahui bahwa Budi mengalami musibah tersebut. "Waktu saya telepon itu di sana suasananya gelap. Saya tanya jawabannya sedang pemadaman," jelas Istri Budi, Lilis Suprapti, 39.

Dia juga menyampaikan, suaminya baru memberikan kabar pada keluarga setelah mendapatkan pertolongan dari pemerintah. "Mungkin karena tidak mau orang rumah panik, jadi baru memberi kabar saat sudah ada bantuan," ujarnya. (kho/wen)

Editor : Whendy Gigih Perkasa
#trenggalek #tppo #gandusari