BENDUNGAN, Radar Trenggalek- Desa Sengon, Kecamatan Bendungan, punya potensi besar dalam pelestarian tanaman obat keluarga (toga). Terlebih juga didukung letak geografis yakni di kawasan pegunungan. Mayoritas masyarakat di sana telah menanam toga secara mandiri. Sayangnya, pengetahuan masyarakat mengenai pengolahan serta pemasaran terbatas.
Hal tersebut direspons Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) yang merupakan bagian Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Itu setelah STKIP PGRI Trenggalek mengirimkan proposal ke Belmawa. Proposal itu pun disetujui dan didanai oleh kementerian. Sebagai pelaksana yakni tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiwaan (PPK Ormawa) BEM STKIP PGRI Trenggalek.
Ketua Tim PPK Ormawa STKIP PGRI Trenggalek, Komat Ridho Sabdo Tomo menyampaikan, program konservasi toga bertujuan memberdayakan masyarakat. Yakni dalam pemanfaatan toga sebagai alternatif pengobatan. “Tim PPK Ormawa berperan dalam memberikan edukasi, pelatihan budi daya, pemasaran digital, dan pendampingan untuk masyarakat Desa Sengon,” ujarnya.
Ridho mengatakan, tim PPK Ormawa mempersiapkan pembangunan rumah toga dibantu masyarakat Desa Sengon. Yakni sejak Juli hingga Agustus lalu. Hingga kini, monitoring dan evaluasi (monev) terus dilakukan. Yakni setiap dua minggu sekali. Hal serupa dilakukan lembaga PT STKIP PGRI Trenggalek untuk memastikan proses kegiatan berjalan lancar.
“Dalam kegiatan itu, diketahui terdapat beberapa kendala yang dihadapi. Yakni, minimnya pengetahuan masyarakat terkait pengolahan, pemasaran, serta fasilitas konservasi toga,” jelasnya.
Solusinya, lanjut pria ramah itu, tim PPK Ormawa membentuk kelompok pelestari (KETARI TOGA). Selain itu, bekerja sama dengan pemerintah desa (pemdes) serta pihak eksternal untuk mendirikan Rumah Herbal sebagai pusat konservasi.
Setelah sosialisasi dan edukasi, sebanyak 85 persen masyarakat sudah aktif membudidayakan toga. Program gerakan "1 Keluarga Menanam Toga" juga membantu meningkatkan kesadaran dan partisipasi warga. “Program ini berhasil meningkatkan jumlah jenis tanaman toga yang dibudidayakan, memperkenalkan teknik pemasaran digital, dan mendirikan fasilitas Rumah Toga sebagai pusat konservasi,” paparnya.
Kepala Desa (Kades) Sengon, Dwi Yulianto, mengapresiasi aksi nyata dari STKIP PGRI Trenggalek. Dia pun mendukung penuh kegiatan konservasi Toga. Pemdes Sengon ikut terlibat dalam konservasi tersebut. Termasuk menyiapkan bibit toga yang belum dibudidayakan masyarakat. Di antaranya, bibit temuireng, kumis kucing, tumbar londho, bunga telang, dan lainnya. “Bibit itu masuk dalam rancangan program konservasi Rumah Toga yang membudidayakan berbagai jenis tanaman toga bermanfaat sebagai obat keluarga herbal bagi masyarakat,” tandasnya. (gun/c1/wen)