Trenggalek- Warga Bumi Menak Sopal harus terus waspada terjadinya bencana. Sebab, suaca ekstrem diprediksi berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Banjir, tanah longsor, ataupun pohon tumbang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Informasi dari Badan Penanggulangan Bancana Daerah (BPBD) Trenggalek, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jatim telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem. Itu melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur termasuk Trenggalek.
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Stefanus Triadi Atmono menyampaikan, bencana hidrometeorologi berpotensi terjadi di seluruh kecamatan yang ada di Trenggalek dengan karakteristik berbeda. Seperti banjir, angin kencang, hingga tanah longsor. "Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, cuaca ekstrem dan ancaman hidrometeorologi masih akan terjadi setidaknya hingga tanggal 25 November," ujarnya.
Sejak beberapa hari terakhir telah terjadi bencana akibat curah hujan tinggi di sejumlah wilayah. Beberapa di antaranya, longsor di Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, pada Selasa (19/11). Material longsor menutup jalur Trenggalek-Tulungagung via Pagerwojo. Baru bisa kembali dilewati Rabu (20/11) sekitar pukul 00.15 dini hari.
"Kami harus mendatangkan alat berat untuk membersihkan material longsor dari jalan," katanya.
Longsor, lanjut Triadi, juga terjadi di Desa Surenlor, Kecamatan Bendungan. Namun, hal itu bisa ditangani lebih awal. Proses evakuasi dilakukan melalui gotong royong pentahelix. Bencana lain yakni banjir di Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek. Ini akibat luapan Sungai Temon. Sekitar tujuh kepala keluarga (KK) terdampak banjir.
Cuaca ekstrem juga membuat pohon tumbang. Yakni di jalur Trenggalek-Ponorogo, tepatnya Desa Dermosari, Kecamatan Tugu. Pohon asem berdiameter 70 sentimeter dan tinggi 11 meter tumbang menutup bahu dan badan jalan. Dua pengendara motor yang tertimpa pohon langsung dilarikan ke puskesmas terdekat. Hal serupa juga terjadi di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek. Pohon waru setinggi 9 meter dengan diameter 40 sentimeter tumbang.
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, BPBD Trenggalek telah mengambil berbagai langkah penanganan. Seperti meningkatkan kapasitas Tim Reaksi Cepat (TRC), bekerja sama dengan TNI dan Polri, serta normalisasi saluran irigasi dan susur sungai.
"Ketika beberapa jembatan masih ada sampah harus dilakukan pembersihan, termasuk kita sudah berkomunikasi dengan BBPJN untuk perampingan pohon yang membahayakan," tandas Triadi. (kho/c1/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa