Trenggalek- Sejak awal penghujan pada November hingga awal Desember ini, Bumi Menak Sopal tak luput dari bencana alam. Tanah longsor, banjir, pohon tumbang, dan lainnya. Badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) mencatat ada sekitar 115 kejadian bencana alam selama periode tersebut. Itu terjadi di 49 desa di 13 kecamatan.
Dari data tersebut, diketahui tanah longsor atau tanah gerak paling mendominasi. Yakni sebanyak 59 kejadian. Mayoritas terjadi di Kecamatan Panggul.
"Kecamatan Panggul memang menjadi yang paling terdampak dengan 26 kejadian tanah longsor dan 9 kejadian banjir," ujar Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, St Triadi Atmono.
Di wilayah tersebut, lanjut Triadi, longsor merusak rumah, sekolah, jalan, dan fasilitas umum lainnya. Sebanyak 57 rumah rusak ringan, 3 rumah rusak sedang, serta 2 sekolah yang mengalami kerusakan parah. Banjir pun turut menambah daftar bencana dengan 13 kejadian yang mengakibatkan kerusakan pada tempat usaha.
“Sementara itu, cuaca ekstrem telah menelan korban jiwa, dengan 1 orang meninggal dunia dan 3 lainnya terluka,” ungkapnya.
Angin kencang berjumlah 25 kejadian turut memperburuk keadaan. Angin yang tiba-tiba datang, menghantam tanpa ampun, menyebabkan kerusakan rumah dan fasilitas lainnya. Namun, gempa bumi yang tercatat 18 kejadian tidak memberikan dampak signifikan di Trenggalek. “Meski ada gempa, alhamdulillah tidak ada kerusakan yang berarti,” tambahnya.
Masyarakat Trenggalek kini tengah berjuang menanti bantuan yang datang. BPBD Trenggalek telah bergerak cepat mengirimkan alat berat untuk membersihkan material longsor serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Pemerintah daerah juga telah menetapkan status darurat bencana dengan harapan agar proses pemulihan dapat segera dilaksanakan.
"Kami terus berkoordinasi untuk memastikan masyarakat yang terdampak segera mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan," tegasnya.
Pascabencana, proses peninjauan lapangan dilakukan untuk mengajukan usulan rehabilitasi dan rekonstruksi. Kesiapsiagaan menjadi kunci dalam meredam bencana lebih lanjut, mengingat kondisi alam yang sulit diprediksi. (kho/c1/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa