Reog Ponorogo is one of Indonesia’s famous traditional dances. It is a product of Ponorogo, East Java Indonesia. This dance has its own special, so many people amazed by Reog Ponorogo. Reog Ponorogo has a story, sometimes we call it as a legend. (Susanto)
Ribut Subagio, guru olahraga di SMA Negeri 1 Pule Trenggalek, telah mencuri perhatian dengan pendekatan inovatifnya dalam mengajar. Dia selalu dinanti dan menjadi sosok inspiratif bagi siswa. Ini lantaran pendekatan unik yang dia terapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Yakni, menggabungkan kecintaannya pada olahraga dengan seni tradisional Reog.
Kepada Jawa Pos Radar Trenggalek, Ribut menceritakan masa kecilnya yang penuh warna. Utamanya kecintaan terhadap seni reog yang selalu ditanamkan. Ini tak luput dari lingkungan tempat Ribut dibesarkan. Yakni di desa kecil yang kaya tradisi.
Ribut mengatakan, setiap kali festival reog digelar, dia akan berlari ke alun-alun untuk menyaksikan. Suara gamelan yang mengalun merdu, tarian energik, dan penampilan megah singa selalu membuatnya terpukau.
“Saya masih ingat betapa senangnya saya saat menonton pertunjukan. Saya ingin menjadi bagian dari keindahan itu,” kenangnya, dengan penuh semangat.
Kecintaan itu mengantarkannya untuk bergabung dengan grup seni reog di desanya. Di sana, dia belajar bukan hanya tentang gerakan, melainkan juga nilai-nilai disiplin dan kerja keras. Latihan yang melelahkan di bawah terik matahari tak pernah membuatnya mundur.
“Saya belajar bahwa seni membutuhkan dedikasi, sama seperti olahraga,” katanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Ribut Subagio memutuskan menjadi guru olahraga. Dia ingin berbagi pengalaman dan kecintaannya terhadap seni reog kepada generasi muda. Di sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya, dia mulai mengintegrasikan elemen reog ke dalam pelajaran olahraga.
“Saya percaya bahwa olahraga dan seni memiliki banyak kesamaan. Keduanya melatih tubuh dan jiwa,” ujarnya.
Setiap Minggu, kelas olahraga menjadi lebih hidup ketika Ribut Subagio mengajak anak didiknya belajar gerakan dasar reog. Dengan penuh semangat, dia memperagakan langkah demi langkah, menjelaskan makna di balik setiap gerakan. Siswa yang awalnya ragu pun mulai tertarik mengikuti dengan antusiasme yang menggebu.
“Saya ingin mereka merasakan kekuatan dan keindahan yang sama, yang saya rasakan saat kecil,” katanya.
“Dan kami bukan hanya berlatih untuk tampil, melainkan juga untuk memahami warisan budaya kita,” imbuh pria ramah itu.
Berkat usaha Ribut, siswa di sekolah tempatnya mengajar sering diundang untuk tampil di berbagai acara. Momen-momen ini bukan hanya kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka, melainkan juga membawa budaya reog ke masyarakat luas.
“Melihat mereka tampil dengan percaya diri, rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan. Mereka tidak hanya mewakili sekolah, tetapi juga budaya kita,” ungkapnya.
Di luar kegiatan belajar, Ribut menyadari pentingnya membangun karakter siswa. Dia sering mengingatkan mereka bahwa seni dan olahraga mengajarkan tentang kebersamaan, rasa hormat, dan ketekunan. “Setiap kali kita berlatih, kita belajar untuk bekerja sama dan saling menghargai. Itu adalah nilai yang harus kita bawa dalam hidup,” paparnya.
Kisah Ribut Subagio merupakan contoh nyata bagaimana passion dapat membentuk generasi. Dia berhasil menciptakan ruang olahraga dan seni berjalan beriringan, menjadikan siswa tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga kaya pengetahuan budaya.
“Saya ingin mereka tumbuh menjadi individu yang tidak hanya kuat, tetapi juga mencintai dan menghargai warisan budaya mereka,” tandasnya.
Dengan dedikasi dan cinta yang tulus, Ribut telah mengukir jejak yang tak terlupakan di hati para siswa dan di komunitasnya. Dia guru yang tidak hanya mengajarkan olahraga, tetapi juga menanamkan rasa bangga akan budaya yang telah mengakar dalam dirinya sejak kecil. (gun/c1/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa