Trenggalek- Hujan deras yang mengguyur selama beberapa hari terakhir mengakibatkan tebing longsor di Sumbermadu, Desa Pucanganak, Kecamatan Tugu. Longsor ini menutup jalan desa, sehingga menyebabkan 25 kepala keluarga (KK) terisolir.
Kepala Desa Pucanganak, Hadi Sumanto, mengatakan, longsor sebenarnya terjadi pada Minggu malam (15/12). Setelah kejadian, pihaknya segera melaporkan insiden tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek. Longsor menutup jalur lingkar yang menjadi akses utama dua RT. Yakni RT 17 yang dihuni oleh 25 KK, serta RT di atas dengan 37 KK.
“Dampak longsor ini sangat terasa. Akses keluar-masuk warga terhambat total, sehingga aktivitas terganggu. Sementara ini warga hanya bisa melintas dengan berjalan kaki,” jelasnya.
Hadi juga menyebutkan bahwa meskipun ada alternatif jalur lain, kondisi jalan tersebut licin dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan seperti sekarang.
Pantauan di lokasi kejadian Kamis (19/12), longsoran material setinggi belasan meter menutupi jalan desa. Tebing yang curam, kontur tanah yang tidak stabil, serta pepohonan besar di sekitar area turut memperparah situasi. Satu unit alat berat berupa ekskavator dikerahkan untuk membersihkan material longsor.
“Kami langsung mengajukan permohonan bantuan alat berat ke BPBD. Alhamdulillah, hari ini (kemarin, Red) proses pembersihan sudah hampir selesai,” jelas Hadi kepada awak media.
Ekskavator yang dikerahkan hanya fokus membuka jalan agar bisa dilalui, tetapi kondisi bekas longsoran masih rawan dan berpotensi terjadi longsor susulan. Kendati demikian, jalur tersebut sudah nampak bisa dilalui oleh masyarakat meskipun dengan pejalan kaki. Perlu upaya pembersihan dengan air supaya tanah yang masih ada di jalan dapat dibersihkan dan dilalui oleh kendaraan bermotor.
Upaya pembersihan terus dilakukan untuk mengembalikan akses transportasi warga sepenuhnya. Namun, dengan risiko longsor lanjutan yang masih mengancam, warga diminta tetap waspada dan berhati-hati. Pemerintah desa bersama BPBD juga akan memantau perkembangan situasi untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut dari cuaca ekstrem yang terus berlangsung. (kho/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa