Trenggalek- Dinas Peternakan (Disnak) Trenggalek harus bergerak cepat untuk menyelamatkan sapi Galekan. Pasalnya, hingga kini populasinya kian menurun, hingga terancam punah.
Berdasarkan informasi yang didapat Jawa Pos Radar Trenggalek dari Disnak, tercatat ada 28 ekor sapi Galekan yang dikembangkan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pengembangan Ternak (Pusbangnak), Desa Ngadirenggo, Kecamatan Pogalan. Namun dari jumlah tersebut hanya 11 ekor yang terdiri dari satu jantan dan 10 betina yang termasuk spesies asli sapi Galekan. Sedangkan, sisanya merupakan silangan antara Sapi Galekan dengan spesies lainnya, seperti simental, maupun limosin.
“Makanya karena populasi sangan minim dan spesies sapi tersebut juga termasuk aset, maka kami perlu menyelamatkannya dari kepunahan,” ungkap Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Trenggalek Joko Susanto.
Dia melanjutkan, sapi Galekan sendiri merupakan salah satu jenis sapi yang murni berasal dari Trenggalek, yang sebelumnya didapat dari hutan wilayah Kecamatan Panggul, hingga Dongko. Saat itu masyarakat menangkapnya dari hutan, dan mencoba mengembangbiakan. Dengan beberapa keunggulan, yakni bentuk tubuhnya yang relatif kecil dari sapi impor, dan daging yang empuk karena tidak banyak mengandung serat, membuat sapi tersebut sering diminati untuk disembelih guna keperluan berbagai acara, termasuk acara adat. Bahkan, sapi betina yang masih produktif pun, juga ikut disembelih.
“Berdasarkan informasi yang diterima, kini jumlahnya yang diternakan di masyarakat kurang dari 10 ekor, maka untuk tahun depan kami mengusulkan anggaran untuk membeli sapi yang ada di masyarakat tersebut untuk dikembangkan di UPT Pusbangnak, semoga saja disetujui,” tutur Joko.
Dimungkinkan masyarakat kurang meminati mengembang biakan sapi jenis ini karena ukurannya yang relatif kecil dengan berat daging berkisar 350, hingga 400 kilogram. Karena itulah, harga jualnya relatif murah, jika dibandingkan dengan menernakkan sapi jenis impor yang beratnya bisa mencapai satu ton, bahkan lebih.
“Mungkin sebagian masyarakat menganggap sama-sama memelihara sapi, lebih baik memelihara yang berukuran besar, padahal sapi galekan lebih memiliki keunggulan daripada sapi impor,” imbuhnya.
Keunggulan yang dimaksud di antaranya, daging yang empuk, mudah beradaptasi dengan segala jenis makanan yang ada, lebih kebal terhadap penyakit, serta produktivitasnya tinggi. Karena itulah, saat ini Pusbangnak telah mengembangkan berbagai cara, termasuk bekerjasama dengan Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari Malang, untuk pembuatan semen beku sapi Galekan. Nantinya semen beku tersebut bisa diambil untuk keperluan kawin suntik sapi.
Sedangkan terkait ciri-ciri Sapi Galekan sendiri, adalah memiliki warna dominan merah bata. Selain itu, juga bertanduk, memiliki garis punggung dan kantung mata dengan bulu berwarna hitam, serta untuk jantan dewasa, memiliki punuk menghadap ke depan.
“Berkat kerjasama dengan BBIB Singosari itu kami memiliki semen beku yang bisa untuk seribu kawin suntik, nantinya akan diberikan secara gratis bagi peternak yang membutuhkan melalui program Upaya Khusus sapi Indukan Wajib Bunting,” jelas Joko. (jaz/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa