Trenggalek- Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Bumi Menak Sopal terus meroket. Buktinya, sejak ditemukan sapi yang terinfeksi akhir 2024 lalu, hingga kini jumlahnya bertambah. Bahkan sudah ratusan sapi terjangkit. Ironisnya, stok vaksi di dinas terkait masih kosong. Peternak pun terpaksa vaksin mandiri.
Kepala Dinas Peternakan Trenggalek, Joko Susanto, menyampaikan, kasus PMK pada akhir Desember tercatat sebanyak 79 ekor. Jumlah ini melonjak menjadi 156 kasus pada pekan pertama Januari, dan terus bertambah hingga mencapai 541 kasus per 13 Januari.
“Dari total kasus tersebut, sebanyak 24 ekor berhasil sembuh, 490 ekor masih dalam pengobatan dan pemantauan, lima ekor dilakukan potong paksa, 11 ekor mati, dan 11 ekor lainnya dijual,” ujarnya.
Joko mengatakan, mayoritas sapi yang mati merupakan anakan atau pedhet yang belum menerima vaksin. Sebaliknya, sapi yang berhasil sembuh, telah mendapatkan vaksinasi dan perawatan intensif. Sayangnya, kini stok vaksin di Dinas Peternakan Trenggalek kosong. “Vaksin masih menunggu dari pemerintah provinsi, mungkin masih dalam proses pengadaan. Kami berharap distribusinya segera dilakukan,” paparnya.
Beberapa peternak sapi perah telah berinisiatif membeli vaksin secara mandiri. Namun, bagi peternak yang tidak mampu, Joko menekankan vaksinasi bukan satu-satunya solusi untuk menekan penularan PMK.
“Langkah yang sangat penting adalah mengisolasi sapi yang menunjukkan gejala, menjaga kebersihan kandang, dan memberikan nutrisi yang baik. Nutrisi yang cukup dapat meningkatkan imunitas sapi, salah satunya dengan memberikan empon-empon,” tambahnya.
Selain sapi, PMK juga menular ke kambing. Namun, gejala yang dialami kambing tidak separah sapi. Selain itu, kambing cenderung lebih tahan terhadap serangan virus ini. Meski demikian, Dinas Peternakan tetap mengambil langkah preventif agar penyebaran PMK tidak meluas.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah merekomendasikan penutupan pasar hewan di seluruh wilayah Trenggalek. Langkah ini ditujukan untuk meminimalkan lalu lintas hewan yang dapat mempercepat penyebaran virus.
“Kami telah merekomendasikan Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan untuk menutup pasar hewan. Namun, jika ada pembelian langsung dari kandang peternak, seperti untuk aqiqah, kami tidak dapat melarangnya,” jelas Joko.
Dengan langkah-langkah mitigasi yang diterapkan, pemerintah daerah berharap dapat mengendalikan wabah PMK di Trenggalek. Peternak diimbau untuk tetap waspada dan menjalankan protokol kesehatan ternak untuk melindungi sapi mereka dari ancaman PMK. (kho/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa