Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ini Lho Biang Kerok Berkurangnya Tangkapan Ikan Nelayan di Trenggalek

Akhmad Nur Khoiri • Jumat, 17 Januari 2025 | 13:05 WIB
SEMANGAT: Nelayan di Pantai Prigi menarik jaring untuk menangkap ikan.
SEMANGAT: Nelayan di Pantai Prigi menarik jaring untuk menangkap ikan.

Trenggalek- Hasil tangkapan ikan laut di Bumi Menak Sopal Kabupaten Trenggalek mengalami penurunan signifikan selama 2024. Padahal, sebagian nelayan telah menggunakan alat bantu tangkap ikan, fish finder. Kondisi cuaca diduga ikut berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan.

Berdasarkan data dari Dinas Perikanan (Diskan) Trenggalek, total produksi tangkapan ikan pada 2023 mencapai 33.032,06 ton. Namun, angka ini menurun menjadi 26.902,39 ton pada 2024. Artinya,  ada penurunan sekitar 6.129,67 ton.

"Produksi perikanan 2024 tidak mencapai target, terutama di sektor tangkap laut," ungkap Kepala Diskan Trenggalek, Cusi Kurniawati.

Cusi mengatakan, penurunan hasil tangkapan ini disebabkan perubahan kondisi cuaca dibandingkan tahun sebelumnya. “Pada 2024, curah hujan yang lebih tinggi memengaruhi hasil tangkapan ikan, yang secara langsung lebih rendah dibandingkan 2023,” ujarnya.

Dia melanjutkan, meskipun alat bantu tangkap ikan seperti Fish Finder telah digunakan sebagian nelayan, pemanfaatannya belum merata. Alat ini memiliki tingkat keberhasilan hingga 75 persen karena dapat mendeteksi keberadaan ikan secara akurat, sehingga nelayan dapat menghemat bahan bakar, lantaran bisa langsung menuju lokasi ikan.

Namun, distribusi Fish Finder di kalangan nelayan kecil masih menjadi kendala. Menurut Cusi, pemerintah pernah memberikan bantuan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pada rentan 2020–2022. Namun itu hanya untuk kapal nelayan di bawah 5 GT.

“Nelayan kecil sudah mendapatkan bantuan, tapi jumlahnya terbatas, sedangkan kami sendiri tidak menerima alat tersebut dalam jumlah banyak,” jelasnya.

Wanita ramah itu juga menyebut, harga Fish Finder, yang mencapai Rp 20 juta per unit, menjadi tantangan tersendiri bagi nelayan yang ingin membeli secara mandiri. Penurunan produksi perikanan tangkap berdampak pada pencapaian target pendapatan asli daerah (PAD). Oleh karena itu, Diskan Trenggalek terus mencari solusi untuk meningkatkan produksi.

“Kami akan berupaya memperbaiki pencapaian target di tahun mendatang. Perikanan tangkap menjadi salah satu sektor penting dalam mendukung PAD,” tandasnya.

Suprapto, salah seorang nelayan di Prigi mengatakan, penggunaan fish finder belum merata. Tak semua nelayan memakai perangkat tersebut. Harga yang mahal menjadi kendala. “Memang cukup bagus alatnya. Tapi harganya mahal. Jadi tak semua nelayan memiliki,” ungkapnya. (kho/wen)

Editor : Whendy Gigih Perkasa
#fish finder #trenggalek #ikan #cuaca #nelayan #Tangkapan #Dinas Perikanan