TRENGGALEK- Candi Brongkah yang terletak di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan memiliki keunikan tersendiri dari berbagai peninggalan candi di Trenggalek. Pasalnya, benda cagar budaya yang ditemukan sekitar tahun 1995 tersebut selalu tergenang oleh air.
Juru Pelihara Candi Brongkah, Soim mengungkapkan, genangan air di sekitar candi disebabkan adanya sumber mata air dari sungai. Terkadang saat musim hujan candi terendam oleh air, sedangkan saat musim kemarau hampir tidak ada air di sekelilingnya.
"Memang sebelah timur ada sungai ngasinan, jadi kalau hujan lebat bisa menyebabkan banjir," ujarnya.
Soim mengaku, sungai ngasinan memang menjadi sumber mata air masyarakat setempat. Tak ayal jika penemuan candi disebabkan saat dirinya hendak membuat sumur.
Tidak hanya bangunan candi yang ditemukan, namun terdapat arca peninggalan zaman dahulu seperti patung Betari Durga, guci serta kendi. Temuan arca tersebut saat ini tersimpan di Museum Trowulan Mojokerto.
"Candi ini sudah dijadikan sebagai cagar budaya, sehingga perawatan dari saya maupun dari museum tetap dilakukan," imbuhnya.
Meski saat ini hanya terlihat dasar candi, perawatan tetap dilakukan oleh warga sekitar. Menurutnya, sepanjang candi tertutup oleh dinding serta pagar pembatas guna memberikan keamanan supaya area tersebut tetap terjaga. Terkadang, pemerintah melalui Museum Trowulan Mojokerto kerap kali berkunjung untuk mengamati candi brongkah tersebut.
"Biasanya tiga sampai enam bulan sekali pihak museum datang sekedar melihat kondisi candi," terangnya.
Saat ini situs candi brongkah sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, sehingga para masyarakat diperbolehkan untuk mengunjungi candi tersebut. Kendati demikian, pengunjung yang hadir tidak selalu ramai, hanya beberapa dari pelajar yang mengunjungi candi tersebut.
"Biasanya hanya sekitar dua sampai tiga pengunjung saja, bahkan tidak ada pengunjung sama sekali," imbuh Soim.
Baca Juga: 72 Kios Terancam Diblacklist, Pedagang Pasar Pon Trenggalek Enggan Buka
Pria yang juga sebagai penemu Candi Brongkah tersebut juga menjelaskan, para pengunjung bisa berkunjung tanpa dipungut biaya sedikitpun. Dirinya memperbolehkan siapa saja yang mengunjungi situs meski hanya penasaran atau ingin mengetahui sejarah.
"Saya tidak menaksir uang kepada para wisatawan untuk melihat candi brongkah. Tujuannya supaya candi ini bisa dikenal lebih banyak masyarakat tak hanya lokal namun luar daerah," tandasnya. (mg1/jaz)
Editor : Zaki Jazai
Sumber : RADAR TRENGGALEK