Sejarah Trenggalek: Jejak Manusia Purba hingga Jadi Kabupaten Modern

Syarifatul Insaniyah • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 12:40 WIB
Sejarah Trenggalek menyimpan jejak manusia purba, Menak Sopal, masa kerajaan, kolonial, hingga perkembangan wisata.(ILUSTRASI AI)
Sejarah Trenggalek menyimpan jejak manusia purba, Menak Sopal, masa kerajaan, kolonial, hingga perkembangan wisata.(ILUSTRASI AI)

TRENGGALEK - Sejarah Trenggalek memiliki perjalanan panjang sejak masa prasejarah hingga menjadi salah satu kabupaten di Jawa Timur. Jejak manusia purba, peninggalan megalitikum, pengaruh kerajaan Hindu-Buddha, kisah Menak Sopal, masa kolonial, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan pariwisata menjadi bagian dari perjalanan wilayah ini.

Jauh sebelum munculnya kerajaan besar di Nusantara, kawasan Trenggalek telah dihuni manusia. Dalam sumber disebutkan, bukti arkeologis berupa kapak genggam dan serpi ditemukan di kawasan Watu Watulimo dan Dongko. Kehidupan masyarakat saat itu berlangsung secara nomaden dengan mengandalkan kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan.

Kondisi geografis berupa dataran rendah, pegunungan, sungai, dan lembah subur membuat kawasan tersebut mendukung kehidupan manusia. Seiring waktu, masyarakat mulai mengenal teknik bercocok tanam dan kehidupan menetap.

Perkembangan berikutnya ditandai kebudayaan megalitikum. Sejumlah wilayah seperti Kampak dan Munjungan disebut memiliki peninggalan berupa dolmen, meja batu, menhir, tugu batu, dan batu kubur. Peninggalan tersebut dalam sumber dikaitkan dengan sistem kepercayaan, pemujaan leluhur, serta ritual masyarakat masa itu.

Baca Juga: Sejarah Tulungagung Lengkap: Asal Usul Nama, Berdirinya Kabupaten, hingga Jejak Kerajaan Majapahit yang Jarang Diketahui

Memasuki masa perkembangan kerajaan di Jawa, Trenggalek disebut mendapat pengaruh Hindu-Buddha. Jejak berupa arca dan relief menjadi bagian dari peninggalan yang menggambarkan unsur keagamaan dan kebudayaan masa tersebut.

Pada abad ke-13 hingga ke-15, wilayah Trenggalek disebut menjadi bagian penting dari Kerajaan Majapahit. Letaknya di pesisir selatan Jawa Timur membuat wilayah ini berperan sebagai daerah penyangga sekaligus pemasok sumber daya alam dan hasil pertanian.

Selain catatan mengenai kerajaan, sejarah lokal Trenggalek juga tidak dapat dipisahkan dari legenda Menak Sopal. Tokoh ini diyakini membuka wilayah yang sebelumnya berupa hutan dan sungai liar.

Dalam kisah yang berkembang, Menak Sopal membendung aliran Kalingasinan dan membangun Bendungan Bagong. Bendungan tersebut disebut berfungsi mengendalikan banjir sekaligus mengairi lahan pertanian. Cerita Menak Sopal juga mengandung unsur spiritual dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural.

Baca Juga: Asal-usul Tulungagung, Berawal dari Rawa Ngowo dan Sayembara Adipati Betak

Pada akhir abad ke-16, Trenggalek dalam sumber disebut berkembang sebagai kadipaten di bawah Kesultanan Mataram Islam. Penyebaran Islam kemudian semakin kuat melalui peran ulama, mubalig, santri, dan pesantren.

Memasuki abad ke-17 hingga ke-18, wilayah Trenggalek menghadapi pengaruh VOC. Kekayaan kayu jati dan hasil pertanian disebut menjadi salah satu daya tarik ekonomi. Sistem monopoli perdagangan turut mengubah kehidupan masyarakat.

Setelah VOC dibubarkan, Trenggalek berada dalam administrasi Hindia Belanda. Pemerintah kolonial mengatur wilayah melalui distrik serta menerapkan kebijakan ekonomi, termasuk tanam paksa. Pembangunan jalan dan fasilitas pemerintahan juga berkembang, meski dalam sumber disebut sekaligus berfungsi memperkuat kontrol kolonial.

Pendudukan Jepang pada 1942 menjadi periode berat bagi masyarakat. Kerja paksa atau romusa menyebabkan penderitaan, sementara tekanan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi semakin kuat.

Baca Juga: Pesugihan Kera Ngujang Tulungagung, Juru Kunci Ungkap Asal-usul Rumor yang Beredar

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, masyarakat Trenggalek ikut mempertahankan kemerdekaan. Organisasi pemuda dan kelompok masyarakat berperan menjaga wilayah dari ancaman kembalinya kekuasaan Belanda.

Pada 1950, Trenggalek secara resmi ditetapkan sebagai kabupaten dalam struktur pemerintahan Republik Indonesia. Sejak itu, pembangunan berlangsung di berbagai bidang, mulai pertanian, pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur.

Perkembangan Trenggalek berlanjut pada masa Orde Baru dan era Reformasi. Otonomi daerah memberikan ruang lebih besar bagi pemerintah daerah untuk mengelola pembangunan berdasarkan potensi lokal.

Kini, Trenggalek terus mengembangkan sektor wisata alam dan budaya. Pantai Prigi dan Pantai Pelang menjadi bagian dari potensi wisata, sementara tradisi larung sembonyo dan kesenian jaranan Turonggo Yakso tetap menjadi warisan budaya masyarakat.

Rangkaian perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana Trenggalek tumbuh dari kawasan hunian prasejarah menjadi daerah dengan identitas sejarah, budaya, dan pemerintahan yang terus berkembang.

Editor : Syarifatul Insaniyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Sejarah Trenggalek budaya Trenggalek bendungan bagong trenggalek Menak sopal