Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Lestarikan Alam dan Budaya, Gelar Upacara Ulur-Ulur.

Anggi Septian Andika Putra • Sabtu, 21 Juli 2018 | 19:50 WIB
lestarikan-alam-dan-budaya-gelar-upacara-ulur-ulur
lestarikan-alam-dan-budaya-gelar-upacara-ulur-ulur

TULUNGAGUNG – Upacara ulur-ulur di Telaga Buret Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, kemarin (20/7) berlangsung khidmat. Tradisi yang sudah terun-temurun tersebut diikuti ratusan warga dari sekitar lokasi sumber air itu.


Dengan upacara ada yang digelar setiap Jumat Legi bulan Sela pada penanggalan Jawa, diharapkan bisa mempertahankan budaya dan melestarikan hutan maupun mata air di telaga. “Mata air dari telaga bisa mengaliri empat desa,” ungkap sesepuh sekitar lokasi, Musiran.


Empat desa yang dialiri air Telaga Buret yakni Desa Sawo, Ngentrong, Gedangan, dan Gamping. “Upacara ulur-ulur juga untuk menghilangkan segala hal negatif di semua warga Tulungagung pada umumnya, dan bagi among tani buruh tani, supaya padinya tidak terkena penyakit,” ungkap pria berumur 76 tahun itu.


Dia menjelaskan, dalam rangkaian upacara adat tersebut, akan ada gelaran budaya langin tayub, kemudian diteruskan ruwatan murwakala. “Dulu setelah upacara ulur-ulur, sesajian berupa kue-kue dibuat rebutan warga. Kini setelah upacara selesai, dikumpulkan, kemudian dibagi rata dan makan bersama warga,” terang dia.


“Kami membawa sesajian untuk dewa-dewa dan leluhur yang menjaga mata air, mulai dari sega gurih, ambeng mule, buceng robyong, jenang sengkala, jadah aneka warna, dan lainnya,” tambahnya.


Dia mengatakan, upacara adat ini merupakan salah satu tradisi dari adat Jawa yang harus dilestarikan. “Adat jawa itu nemuwi rasa atau berisi filsafat yang sangat luhur, terutama dengan adanya ulur-ulur untuk menjaga sumber air dan hutan di sini,” ujarnya.


Menurut dia, dengan menjaga tradisi yang ada, masayarakat Jawa akan mengenal jati dirinya. Orang Jawa jangan sampai terpengaruh dengan budaya asing, hingga lupa dengan budayanya sendiri. “Apalagi jangan sampai melanggar moral yang ada di masyarakat kita,” jelasnya.


Dia mengakui, upacara adat ulur-ulur pernah mati beberapa tahun. Hingga pada awal tahun 1992 digelar lagi. Itu karena penebangan hutan saat itu di Desa Sawo tidak terkendali. “Vakumnya upacara ulu-ulur juga disebabkan kepala desa tidak setuju dengan adanya ritual membakar dupa dan menebar bunga. Sekarang ulur-ulur didukung Pemerintah Tulungagung dan masuk agenda tahunan,” ujarnya.


Jika upacara ulur-ulur tidak dilakukan, penebangan hutan tidak terkendali sehingga sumber mata air menjadi surut dan kotor. “Kalau sumber air surut, tidak dapat mengairi persawahan di empat desa,” tandasnya. (c1/ed/din)

Editor : Anggi Septian Andika Putra