TULUNGAGUNG – Hari ini Tulungagung memasuki usia 813 tahun. Namun yang perlu diingat, berdirinya Tulungagung tidak lepas dari Prasasti Lawadan.
Yakni pada 1205 masehi, masyarakat Thani Lawadan di selatan Tulungagung, mendapatkan penghargaan dari Raja Daha terakhir, Kertajaya atas kesetiaan mereka kepada raja ketika terjadi serangan musuh dari timur Daha.
Penghargaan tersebut tercatat dalam Prasasti Lawadan dengan candra sengkala “Sukra Suklapaksa Mangga Siramasa” yang menunjuk 18 November 1205 masehi. Tanggal keluarnya prasasti tersebut akhirnya dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung sejak tahun 2003.
Selain prasasti tersebut, di segenap penjuru Kota Marmer juga ditemukan berbagai peninggalan bersejarah yang menandakan peran besar kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini pada roda sejarah bangsa ini. Seperti Desa/Kecamatan Boyolangu terdapat Candi Gayatri.
Candi ini adalah tempat untuk mencandikan Gayatri (Sri Rajapatni), istri keempat Raja Majapahit yang pertama, Raden Wijaya (Sri Kertarajasa Jayawardhana), dan merupakan ibu dari Ratu Majapahit ketiga, Sri Gitarja (Tribhuwanatunggadewi). Sekaligus nenek dari Hayam Wuruk (Rajasanegara), raja yang memerintah Kerajaan Majapahit pada masa keemasannya.
Nama Boyolangu itu sendiri tercantum dalam Kitab Nagarakertagama yang menyebutkan nama Bayalangu/Bhayalango (bhaya = bahaya, alang = penghalang) sebagai tempat untuk menyucikan dia.
Bambang Ariadi, seorang pemerhati sejarah mengatakan, penetapan Hari Jadi Tulungagung memang berdasarkan Prasasti Lawadan dan ditetapkan pada 2003 silam.
Hal ini memang untuk menunjukan kearifan lokal dibanding sebelumnya yang memilih hari jadi berdasarkan penetapan Belanda. “Sebelum ditetapkan menjadi 18 November, memang berpatokan pada terbentuknya pemerintahan di kabupaten ini pada zaman Belanda yakni 1 April 1824,” katanya kemarin.
Pria berdomisili di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung ini menambahkan, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan penentuan hari jadi suatu daerah. Namun semua memang tidak terlepas dari legitimasi politik.
Bahkan bisa saja dilakukan pembenaran jika ditemukan fakta baru. “Seperti peralihan perayaan hari jadi dari 1 April menjadi 18 November di atas,” tambahnya.
Bambang-sapaan akrabnya tidak memungkiri, Tulungagung memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata di roda sejarah negara ini, khususnya Jawa Timur. Hal ini tidak terlepas dari beragam peninggalan benda cagar budaya di hampir penjuru kabupaten.
Bahkan dia pun memperkirakan jika dulu wilayah selatan sebagai lokasi pengunduran diri seorang tokoh kerajaan yang sudah melepaskan diri dari lingkaran pemerintahan.
“Bahkan bisa diperkirakan, di sekitar aliran Sungai Brantas masih banyak peninggalan sejarah yang belum terkuak. Jika semua terbuka, itu bisa menandakan jika Tulungagung memang menjadi sebuah wilayah penting di zaman kerajaan dulu,” tuturnya.
Sementara itu Kabag Humas dan Protokol Pemkab Tulungagung Sudarmaji mengatakan, selain ada kirab pusaka menuju Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa, masih ada beragam kegiatan yang menjadi bagian dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-813.
Selain kegiatan seni budaya juga ada olahraga. Sedangkan untuk wayangan puncak hari jadi akan diselenggarakan pada 30 November mendatang dengan dalang Ki Sigit Ariyanto dari Rembang dan bintang tamu Topan dan Proborini.
“Masih banyak kegiatan yang bisa diikuti masyarakat. Mari kita semua ikut memeriahkannya. Dan setelah wayangan puncak hari jadi ada ruwatan juga,” katanya.
Editor : Anggi Septian Andika Putra