Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ini Penjelasan Pedagang Kenapa Omzet Penjualan Buah Dipasaran Turun

Didin Cahya Firmansyah • Senin, 10 Desember 2018 | 15:05 WIB
ini-penjelasan-pedagang-kenapa-omzet-penjualan-buah-dipasaran-turun
ini-penjelasan-pedagang-kenapa-omzet-penjualan-buah-dipasaran-turun

 


TULUNGAGUNG – Musim penghujan seperti sekarang membuat sejumlah pedagang buah di Kota Marmer mengalami penurunan omzet penjualan, 20 sampai 50 persen. Seperti yang dialami pedagang buah di Pasar Ngemplak dan Gendingan. Mereka mengeluh musim penghujan seperti ini, konsumen jarang membeli buah-buahan. Kondisi ini tentu berdampak pada penjualan.


Menurut Sa’adah, seorang pedagang buah di Pasar Ngemplak, pelanggannya sebagian adalah pedagang minuman dan makanan berbahan dasar buah-buahan. Di musim penghujan seperti ini, penjualan mereka turun. Ini berimbas langsung ke pedagang buah. “Kan musim penghujan jarang orang minum atau makan buah, makanya kami pun juga ikut terkena dampaknya. Penjualan kami ikut turun,” ungkapnya Senin (10/12).


Meski tidak menjelaskan omzetnya per hari secara detail, Sa’adah mengaku omzet penjualan menurun sekitar 20 persen. Dari sebelumnya omzet penjualan Rp 1 juta, kini menjadi Rp 800 ribu per hari. Namun ini dianggap wajar karena setiap musim hujan selalu turun omzetnya. “Kalau musim hujan, penjualan pedagang buah turun,” ujarnya.


Hal senada juga diungkapkan Budi, seorang pedagang buah di Pasar Ngemplak. Dia mengaku omzet penjualan juga turun sekitar 30 persen. Dari sebelumnya omzet penjualan Rp 1 juta, kini menjadi Rp 700 ribu per hari. “Rata-rata pedagang buah kalau musim hujan turun semua penjualan,” ungkapnya.


Musim penghujan seperti sekarang, membuat Budi mengurangi stok atau persediaan buah di kios. Dia khawatir jika menimbun terlalu banyak, justru bakal busuk. “Kalau tidak laku, saya takut busuk,” katanya.


Mengenai harga buah, Budi mengaku harga relatif masih stabil. Hanya beberapa buah yang mengalami kenaikan, tapi sedikit. Seperti jeruk, pir, dan apel. “Kenaikan sekitar 1.000 sampai 2 ribu per kilogram (kg),” katanya. Contoh, buah pir kini Rp 22 ribu per kg, sebelumnya Rp 20 ribu.

Editor : Didin Cahya Firmansyah