Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Keelokan Sirip dan Ekor Ikan Cupang, Jenis Gajah Lebih Mahal

Didin Cahya Firmansyah • Senin, 31 Desember 2018 | 09:25 WIB
keelokan-sirip-dan-ekor-ikan-cupang-jenis-gajah-lebih-mahal
keelokan-sirip-dan-ekor-ikan-cupang-jenis-gajah-lebih-mahal

 TULUNGAGUNG- Ikan cupang dikenal sebagai ikan yang agresif dan cenderung melawan sesamanya ketika bertemu. Namun ternyata dibalik kegalakannya, ikan cupang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Buktinya, banyak peminat dari luar daerah termasuk luar Jawa seperti Bali. Ini bisa menjadi peluang bisnis bagi masyarakat termasuk di Kota Marmer.



Salah seorang yang sudah menekuni budi daya ikan cupang ini adalah Sunarto, warga Kelurahan Jepun, Kecamatan Tulungagung. Menurut dia, pembeli ikan cupang masih tinggi. Bahkan, dalam sekali pengiriman ke luar Jawa yakni Medan dan Bali, bisa lebih dari 1.000 ekor. Besarnya permintaan tak lepas dari kualitas ikan cupang yang dibudidayakan.



Ikan cupang yang banyak dikirim ke berbagai daerah, bukan sebagai ikan aduan. Ikan lebih digunakan untuk hiasan ruangan seperti di restoran atau pun hotel. Ada beberapa jenis ikan cupang yang diperjualbelikan. Di antaranya jenis bulan, serit, halfmoon, dan helimun. Untuk jenis itu rata-rata dijual sekitar Rp 2 ribu per ekor. Untuk jenis lain yang lebih dominan untuk kontes, yakni jenis ikan cupang gajah. Harganya, minimal Rp 15 ribu per ekor dan bisa mencapai ratusan ribu ketika sudah menjuarai kontes ikan.



Nilai keindahan ikan cupang terletak pada ekor. Semakin lebar ekor dan utuh dengan sorak berbagai warna, membuat nilai ikan semakin tinggi (mahal, Red). Terlebih ketika lebar ekor bisa membentuk setengah lingkaran. “Ikan cupang akan semakin indah dilihat saat berenang dengan tarian ekor dan siripnya,” kata Sunarto.



Agar menghasilkan ikan cupang berkualitas, pembudi daya harus rajin melakukan pengawinan (nyetel, Red) ikan. Selain itu, harus dipisah dalam wadah berbeda agar tidak tarung. Jika terjadi pertarungan, bagian ekor dan sirip yang memiliki perpaduan warna akan rusak dan tentu saja tidak laku dijual. “Harus rajin nyetel. Kalau hambatannya dalam memelihara itu hanya penyakit. Karena itu harus rajin kontrol kondisi air dan ikan,” jelas Sunarto.



Makrus, warga Desa Bendiljatiwetan yang juga pembudi daya ikan cupang mengaku, proses awal budi daya diawali dengan pengawinan ikan cupang betina dan jantan. Dalam satu kali perkawinan, ikan cupang bisa menghasilkan hingga 1.000 butir telur. Telur akan menetas dalam waktu 24 jam setelah pembuahan. Berdasarkan pengalaman para pembudi daya, tingkat kematian pembenihan ikan cupang cukup tinggi. Dalam satu kali kawin biasanya hanya dapat dipanen 30-50 ikan cupang hidup.



Indukan jantan bisa dikawinkan hingga delapan kali dengan interval waktu sekitar dua sampai tiga minggu. Sedangkan indukan betina disarankan hanya dikawinkan satu kali. Bila dipaksakan, pada perkawinan berikutnya akan terjadi penurunan keragaman jenis kelamin. Anakan ikan akan semakin didominasi kelamin betina.



Saat usia dua minggu, ikan cupang mulai dipisah dengan indukan. Setelah usia sebulan, dipindah ke tempat yang lebih besar dan diberi makan cacing sutra atau jentik nyamuk setiap harinya. Pada usia dua bulan dipisahkan berdasar jenis kelamin. “Pembesaran ikan cupang bisa dilakukan di kantong plastik atau pun wadah plastik lain, seperti bekas air mineral. Ikan bisa dijual rata-rata usia tiga bulan,” kata Makrus.


Sayangnya, dua pembudi daya itu enggan menyebutkan secara detail modal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis ikan cupang. Mereka hanya menyebut harus menyiapkan wadah pembesaran, rutin kontrol kesehatan ikan, dan kualitas air. Namun yang pasti, peluang bisnis ikan cupang masih cukup menjanjikan.

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung