TULUNGAGUNG- Tradisi manten (pengantin) kucing di Desa Pelem, Kecamatan Campudarat, hingga kini tetap terjaga. Terbukti Sabtu (5/1) warga desa setempat menggelar ritual tersebut.
Di mana prosesi manten kucing ini didahului dengan pemilihan sepasang kucing di sisi barat dan timur desa. Lantas ketika sudah ditemukan, calon "pengantin" dibawa dua orang pakai keranjang dan dimandikan di Telaga Coban Kromo.
Tak lama setelah dua kucing ini sudah dimandikan, lantas diarak mirip pernikahan sungguhan. Dua kucing jantan dan betina dipertemukan di tempat yang telah ditentukan.
Lantas kedua kucing ini dikeluarkan dari keranjang untuk dipertemukan langsung dan dibacakan mantra. Kemudian kucing didudukkan dipelaminan oleh dua orang berbaju pengantin yang membawa kucing saat arak-arakan.
Kepala Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Mukalam mengatakan, ritual ini sudah ada sejak dulu. Desa waktu itu mengalami kekeringan dan lama tidak hujan.
Lantas ada seseorang pendatang bernama Eyang Sangkrah. Eyang Sangkrah saat berada di Air Terjun Coban Kromo di desa setempat ini membawa kucing, saat itu di lokasi sama ada seekor kucing juga. Eyang Sangkrah akhirnya memandikan dua kucing tersebut. Tak lama usai dua kucing dimandikan, tuba-tiba turun hujan. "Ketika zaman Belanda pun tetap berlangsung. Ritual manten kucing ini untuk mendatangkan hujan ketika kemarau lama. Di samping itu ada tiban juga,"jelasnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah