TULUNGAGUNG – Kecelakaan di perlintasan kereta api (KA) tanpa palang pintu di Desa Plosokandang tahun lalu yang mengakibatkan dua calon mahasiswa IAIN Tulungagung tewas, membuat Dinas Perhubungan (Dishub) Tulungagung tergerak. Buktinya, kini perlintasan tersebut ada penjaganya. Bahkan, di empat titik perlintasan KA tanpa palang pintu di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru yang tidak ada penjaga, sekarang semua ada penjaganya.
Arip Wahyudi, koordinator penjaga perlintas KA di wilayah Plosokandang mengatakan, perlintasan KA tanpa palang pintu di daerah Plosokandang ada empat titik. Yakni di Desa Plosokandang, Gragalan, dan Srigading. Sebelum ada kecelakaan tersebut, perlintasan di Plosokandang dan Gragalan tidak ada penjaga. Namun setelah kejadian, keduanya mulai dijaga.
“Alhamdulillah sekarang keempat titik perlintasan tanpa palang pintu sudah dijaga semua,” ungkapnya.
Pria yang berdomisili di Desa Ngasem, Kecamatan Kras itu mengaku, semenjak kejadian nahas itu, kini dirinya ditunjuk Dishub Tulungagung sebagai koordinator perlintasan KA tanpa palang pintu di empat titik tersebut. Sebenarnya, sebelum menjadi koordinator pun, Arip coba mencari orang untuk menjaga titik perlintasan tanpa palang pintu. Namun tak ada orang yang mau. “Sebelum itu, saya sudah cari orang tapi tak mau. Tak dimungkiri jika pekerjaan ini tak ada bayaran tetap,” ujarnya.
Arip mengatakan, sistem kerjanya yakni diberlakukan dua sif. Yakni pagi pukul 07.00 hingga 12.00 dan siang pukul 12.00 hingga 16.00. Berdasarkan pengalaman selama menjadi penjaga perlintasan, Arif mengaku banyak tipe pengendara yang melintasi rel KA tanpa palang pintu. Seperti lalai saat berada di perlintasan tanpa palang pintu, melamun, ceroboh, dan ngeyel. Tak pelak, penjaga pun kadang harus membentak mereka. “Tak punya pilihan lain selain membentak mereka. Karena ini juga demi keselamatan mereka juga,” katanya.
Di sisi lain, penjaga perlintasan tanpa palang pintu pun juga memiliki grup khusus. Grup tersebut berisi tukar info lokasi KA sudah berjalan atau sedang telat. Dengan cara itu, pemantauan penjaga bisa lebih maksimal. Sebab, ketika KA sudah dekat bisa memberhentikan lalu lintas sementara. “Biasanya saya memberhentikan yang mau menyeberang dengan jarak 500 meter,” jelasnya.
Sementara itu, keberadaan penjaga perlintasan ini disambut positif oleh mahasiswa IAIN Tulungagung. Menurut Hanny Farihah Al Femila, warga Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, adanya penjaga perlintasan KA tersebut lumayan membantu mengurangi kecelakaan. Sebab, mereka akan menghentikan pengendara jika ada KA lewat.
Dia menambahkan, pengendara kadang ceroboh ketika melintasi perlintasan KA. Itu mungkin disebabkan kurang fokus atau konsentrasi. “Saya juga tak tahu kapan saya akan lalai ketika hendak melewati perlintasan tersebut. Untung ada penjaga perlintasan yang membantu mengingatkan saya,” katanya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah