Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tetap Jadi Kusir di Tengah Gempuran Transportasi Modern

Didin Cahya Firmansyah • Selasa, 5 Maret 2019 | 05:00 WIB
tetap-jadi-kusir-di-tengah-gempuran-transportasi-modern
tetap-jadi-kusir-di-tengah-gempuran-transportasi-modern

TULUNGAGUNG – Di tengah gempuran transportasi modern, pendapatan kusir delman merosot. Ini tentu berbeda dengan kondisi di era 60-an. Kala itu, delman masih menjadi alat transportasi andalan masyarakat. Namun seiring perkembangan zaman, alat transporatasi yang ditarik kuda tersebut mulai ditinggalkan.


 


Seperti Katiman, kusir asal Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru. Dia mengaku dahulu kendaraan masih jarang dimiliki orang dan masih menggunakan tenaga kuda. Tak mustahil, profesi kusir bisa sebagai sandaran memenuhi kebutuhan keluarga. “Dahulu nilai mata uang tinggi. Pendapatan Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu cukup memenuhi kebutuhan keluarga,” ungkapnya.


 


Tapi, kini pengasilan kusir sekitar Rp 200 ribu sampai 300 ribu per hari, tak cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi sekarang menarik pelanggan tak bisa tiap hari, hanya minggu dan tanggal merah. “Sekarang orang butuh tenaga kusir hanya untuk wisata dan membahagiakan anak-anak. Jadi tak seramai dahulu,” ungkapnya.


 


Memasuki milenium baru atau tahun 20-an, pangkalan kusir makin terbatas. Pasar Wage dulu terkenal tempat andalan kusir, tapi kini pangkalan kusir harus pindah. “Sekarang terbatas di sekitar alun-alun. Apalagi aturannya hanya diizinkan mangkal di hari Minggu dan tanggal merah,” ujarnya.


 


Minimnya konsumen butuh tenaga kusir dan omzet tak seberapa, membuat mayoritas kusir mengubah haluan profesinya. Tak pelak, banyak kusir lebih baik mengurus sawah sehingga prosfesi kusir hanya sambilan. “Tak dimungkiri, perubahan zaman membuat ini terjadi sehingga memang profesi kusir tak bisa menjadi pekerjaan utama,” jelasnya.


 


Di sisi lain, kebutuhan pakan kuda juga tak sedikit. Pasalnya per hari, kebutuhan pakan perlu satu sak rumput dan 5 kg. Selain energi terbuang untuk merumput, juga harus mencukupi kebutuhan katul Rp 600 ribu per bulan. “Mencukupi pakan satu kuda saja sudah kewalahan,” tandasnya.


 


Namun, profesi kusir tak ingin dilepaskannya karena sudah turun-temurun di keluarganya. Kini tetap eksistensi meski nyaris merugi. “Dari kecil sudah dikenalkan kuda oleh ayah saya,” katanya.


 


Kusir asal desa Bendo, Kecamatan Gondang, Rajid mengaku, profesi kusir turun-temurun di keluarganya sehingga berat hati meninggalkan kusir. “11 tahun saya menjalani profesi ini,” ungkapnya.


 


Dia juga tak mengelak pendapatan kusir tak seberapa. Saking minimnya, membuat Rajid harus melebarkan pangsa dengan pergi ke desa-desa dan berharap ada yang menggunakan jasanya. “Ke desa-desa hanya menarik Rp 2 ribu per orang. Meski dikit, tapi tetap disyukuri,” tandasnya.

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung