TULUNGAGUNG- Tanah retak di Dusun Purwodadi, Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan, membuat puluhan rumah milik warga rusak parah dan tidak bisa dihuni. Hujan terus mengguyur kawasan tersebut sebagai pemicu musibah.
Ketua RT 3 / RW 11 dusun setempat, Musali mengungkapkan, kepanikan warga tak terbendung, ketika tanah mulai bergerak. Pasalnya, warga khawatir terjadi tanah longsor saat istirahat malam hari. Maka warga berinisiatif ronda pemantau pegeseran tanah. “Malam itu warga begadang di luar rumah, sampai pukul 03.00,” ungkapnya Senin (12/3).
Tak sedikit warga yang mengungsi ke tempat aman, tapi ada pula menetap di rumahnya. “Warga yang mengungsi mayoritas terdampak parah akibat tanah bergerak, terlebih warga yang tinggal di lereng bukit. Rumah Mujina itu titik terdekat tanah bergerak, sehingga malam hari mereka mengungsi ke rumah anaknya,” katanya.
Keesokan harinya atau Kamis (7/3), pergerakan tambah lebar. Awalnya hanya tiga titik di sekitar rumah Mujina, tapi meluas sekitar radius 50 meter. “Kalau tak hujan, pergeseran tanah seolah-olah berhenti. Tapi kalau ada hujan lagi, ditakutkan longsor,” tandasnya.
Sepekan setelah kejadian, kondisi Dusun Purwodadi masih belum normal. Rumah-rumah yang terdampak pergerakan tanah mulai dicopoti. Tujuannya mengamankan benda-benda yang bisa diamankan. Contohnya, asbes, atap, perabot, barang-barang berharga lain-lainnya, sudah mulai dibawa ke rumah kerabat yang tak terkena dampak tanah bergeser. “Hari ini (kemarin, Red) rumah Mujina dicopoti untuk mengamankan barang-barang yang masih bisa digunakan,” ungkapnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah