TULUNGAGUNG – Daya tarik air terjun Alam Kandung di Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan, sudah mulai pudar. Sebab, mayoritas pengunjung lebih suka menikmati suasana hutan di sekitar lokasi.
Wisatawan yang datang satu keluarga, asal Kelurahan/Kecamatan Garum, Kota Blitar, Ahmadi mengaku sudah 10 kali berwisata ke Alam Kandung. Yang dicari bukan pesona air terjun, tapi hutan lindung yang memberi kesan rindang dan udara sejuk. “Sudah berkali-kali datang ke sini (Alam Kandung, Red), tapi keindahan air terjun itu-itu saja. Lebih menikmati suasana rindang bersama keluarga,” ungkapnya.
Dia melanjutkan, sejak SMP sering diajak wisata ke air terjun Alam Kandung bersama orang tua. Seiring berkembangnya zaman, pengelolaan kawasan wisata Alam Kandung tak begitu baik. Itu terlihat dari wahana yang masih sama. “Dulu selain air terjun, juga pernah ada wahana kolam renang dan fly fox. Namun sekarang sudah tak ada,” ujarnya.
Sedangkan pengunjung lain, Chandra Ryan, warga Desa/Kecamatan Kedungwaru, mengaku tertarik melalui foto air terjun yang diunggah di media sosial (medsos).
Semula berharap melihat air terjun yang deras saat kali pertama datang, tapi ternyata air terjun biasa. Kondisi di lapangan berbeda yang ada pada foto di medsos. Alternatifnya, menikmati kawasan Alam Kandung dengan cara berbeda. “Meski tak dapat foto derasnya air terjun, ternyata di sini udaranya segar, rindang, dan luas. Jadi tetap menikmati berwisata di Alam Kandung,” ungkapnya.
Wisatawan asal Desa/Kecamatan Ponggok, Blitar, Maulana Ihsan Ashari mengatakan, juga mendapatkan informasi wisata Alam Kandung melalui medsos. “Saya baru kali pertama datang ke Alam Kandung, mulanya ingin melihat air terjun. Namun pesona air terjun hanya begitu saja,” ujarnya.
Hal itu diakui pedagang kaki lima (PKL) di kawasan wisata Alam Kandung, Mukri. Dia mengungkapkan, momen derasnya air terjun tak bisa didapatkan tiap hari. Karena pada saat curah hujan tinggi saja, air terjun bisa deras. Sedangkan momen itu, kalau di kawasan wisata Alam Kandung diguyur hujan deras. “Kalau hujan deras selama satu sampai dua hari, volume mata air sumber lanang meningkat, otomatis air terjun jadi deras. Bahkan, suara guyuran air jatuh terdengar sampai satu kilometer dari titik air terjun,” jelasnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah