TULUNGAGUNG - Perlu diperhatikan pada penggunaan minyak untuk menggoreng. Minyak jelantah atau minyak goreng yang telah lama tidak diganti tentu berdampak buruk bagi kesehatan.
Kasi Kefarmasian dan Perbekalan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Masduki menguraikan beberapa dampak buruk minyak jelantah bagi kesehatan. Salah satunya, dapat memicu kadar kolesterol tinggi.
Kolesterol yang terdapat pada minyak goreng bekas akan menjadi lebih tinggi sebagai akibat dari proses pengendapan. Itu sekaligus membentuk lemak trans sehingga dapat meningkatkan kolesterol. “Kolesterol yang tinggi juga dapat berakibat pada serangan jantung dan penyakit jantung. Untuk itu, sebaiknya tidak mengonsumsi makanan yang digoreng secara berlebihan,” terangnya.
Tak hanya memicu penyakit jantung, kolesterol yang tinggi juga dapat berimbas pada naiknya tekanan darah atau hipertensi. Selain itu, untuk permasalahan ringan, yakni dapat menimbulkan gatal di tenggorokan hingga batuk. Rasa gatal pada tenggorokan ini diakibatkan oleh senyawa akreolin yang terbentuk ketika proses pengendapan minyak goreng. “Minyak yang terlalu sering digunakan cenderung lebih kotor dan ini dapat menyebabkan infeksi pada saluran tenggorokan sehingga bisa berakibat pada batuk kronis,” ujarnya.
Untuk dampak jangka panjang, penggunaan minyak jelantah dapat memicu penyakit kanker. Kandungan radikal bebas pada minyak jelantah yang ikut terserap dalam makanan akan masuk pada tubuh. Hal ini yang akan menyerang sel-sel dalam tubuh dan menjadi karsinogen atau penyebab kanker.
Untuk itu, dia mengimbau pada masyarakat agar lebih bijak ketika mengonsumsi makanan yang digoreng. “Setidaknya gunakan minyak untuk menggoreng dua hingga tiga kali saja. Jangan lebih dari itu,” pungkasnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah