TULUNGAGUNG – Destinasi wisata Alam Kandung di Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan yang selama ini hanya terkenal karena pesona keindahan air terjunnya saja. Alangkah baiknya, jika wisata yang memiliki luas sekitar 4,7 hektare perlu digarap lagi dengan wahana lain. Sehingga wisata tersebut tidak hampar.
Namun, sayang untuk mengarap potensi wisata tersebut perlu modal, dan pengelola wisata ini mengaku dana minim. Hal itu diungkapkan Edi Wibowo pengelola wisata Alam Kandung.
Edi Wibowo mengatakan, pengelolaan wisata Alam Kandung memang belum optimal, karena dana yang cupet alias minim. Selain itu, kawasan wisata ini sebenarnya di bawah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Blitar, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Kandung Makmur, dan Paguyuban Kandung Sejahtera.
Sebenarnya, lanjut dia, selama ini hasil penjualan tiket atau retribusi sudah disepakati, yakni 10 persen LMDH, 30 persen KPH Blitar, dan 60 persen paguyuban. Sehingga, pihak-pihak itu punya kewajiban mengembangkan kawasan wisata Alam Kandung. “Namun selama ini, koordinasi pengembangan kawasan wisata nyaris semua dari paguyuban,” ungkapnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah