TULUNGAGUNG - Untuk menyiasati banyaknya kandungan minyak pada gorengan, penjual biasanya menggunakan kertas bekas untuk meniriskan gorengannya. Meskipun minyak dapat diserap oleh kertas tersebut, penggunaan kertas bekas koran dapat memicu bahaya pada kesehatan.
Kasi Farmasi dan Perbekalan Makanan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung Masduki mengatakan, pengemasan bahan pangan memang harus dilakukan dengan hati-hati. Kandungan dalam tinta dalam kemasan atau hanya sekadar sebagai alas dari kertas bekas koran dan majalah memungkinkan terjadinya perpindahan kandungan logam berat (terutama Pb) dari tinta pada koran ke makanan.
Selain itu, lanjut Masduki, kertas bisa menjadi sumber cemaran biologis (mikroba). Tak heran kertas yang tidak higienis tersebut juga bisa memicu diare hingga penyakit lainnya. "Beberapa kertas kemasan dan kertas yang bukan kemasan pangan terdeteksi mengandung Pb (timbal) melebihi batas yang ditentukan. Tak ayal, kertas bekas sangat tidak dianjurkan sebagai alas ataupun pembungkus makanan," jelasnya.
Masduki menambahkan, Pb bisa masuk ke tubuh tertutama saluran pernapasan melalui tangan atau makanan yang terpapar. Bahkan lebih mengerikan lagi, timbal ini bisa mengganggu kesehatan tubuh lain karena bisa menuju pencernaan, sistem peredaran darah, dan kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain. Seperti gangguan kesehatan gigi, ginjal, hati, otak, saraf, alat reproduksi, dan tulang.
Dampak pada anak-anak, jika keracunan timbal, bisa jadi lebih hiperaktif, gangguan mental, bahkan penurunan kecerdasan. Bisa juga menghilangkan nafsu makan, anemia, kehilangan berat badan, susah buang air besar, lesu, dan suka marah. "Timbal bisa menular melalui plasenta dan ASI yang terpapar timbal. Maka dari itu, harus pilah-pilih alas apa yang aman agar keluarga kita terbebas dari bahaya," terangnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah