KOTA, Radar Tulungagung – Keberadaan rokok elektrik atau vapor masih menjadi dilematis. Sebab ibarat koin mata uang, vapor yang diklaim lebih sehat dari rokok konvensional juga masih memiliki dampak bagi kesehatan. Menanggapi hal ini Latief Muhammad Aziz salah satu anggota komunitas Vape Squad Tulungagung membenarkan jika vapor tidak sepenuhnya bebas dari berbagai penyakit.
Namun jika dibandingkan dengan rokok konvensional, kandungan nikotin yang terdapat pada vapor relatif lebih sedikit. “Ada banyak faktor yang membuat vapor lebih sehat dari rokok konvensional. Seperti bagaimana kita merawatnya, menjaga kebersihan, mengganti kapas, kawat dan sebagainya,”jelasnya saat berkunjung di kantor Jawa Pos Radar Tulungagung, Sabtu (14/9) lalu.
Latief menambahkan, vapor juga menjadi salah satu media alternatif mengurangi ketergantungan terhadap nikotin. Sebab ada beberapa jenis vapor yang memiliki nol nikotin. Artinya liquid pada vapor tersebut bebas dari nikotin. Tak hanya itu, perbedaan mendasar antara vapor yang dipanaskan dan rokok konvensional yang dibakar juga dinilai akan memberikan dampak yang berbeda.
“Kita semua tahu bahwa vape itu uap, dipanaskan bukan dibakar. Menurut saya pribadi nih ya, ini juga belum ada penelitian yang pasti. Namun saya yakin akan memiliki perbedaan, karena berbeda karakter, jadi pasti dampaknya berbeda,” imbuhnya.
Hal senada juga disampaikan Moch Yusuf Choirul Putra salah seorang anggota Vape Squad Tulungagung yang lain. Dia membenarkan jika vapor sebagai salah satu media untuk mengurangi, bahkan berhenti merokok. Bahkan dalam acara Asia Harm Reduction Forum 2017 dan 2018 dijelaskan sejumlah cara untuk berhenti merokok. “Dan ada penelitian dari Amerika bahwa tujuan utama vapor memang untuk mengurangi kebiasaan merokok,” jelasnya.
Disinggung mengenai dampak panjang penggunaan vapor, pemuda berkulit putih ini mengatakan jika belum ada penelitian yang pasti. Sebab untuk mengetahui dampak panjang diperlukan setidaknya waktu 20 tahun lamanya. Namun demikian, hingga kini baru ditemukan 6 kasus meninggal akibat kebiasaan vapor. Akan tetapi Yusuf merinci 6 korban tersebut diduga menggunakan liquid Tetrahydrocannabinol THC atau ekstrasi ganja pada vapor mereka. “Jadi dugaannya enam korban ini menggunakan liquid THC atau ekstrasi ganja,”ujarnya.
Namun demikian dia sepakat jika vapor lebih sehat dibandingkan dengan rokok konvensional. Namun akan lebih menyehatkan jika tidak mencoba keduanya. Bahkan dia pun mengimbau pada masyarakat jika belum pernah merokok sama sekali jangan sekali-kali untuk mencoba vapor.
Sebab kembali pada tujuan awal, vapor berfungsi mengurangi kebiasaan merokok. Tak hanya itu dia pun menambahkan, penjualan vapor dikhususkan bagi anak di atas 18 tahun ke atas. “Kalau sebelumnya nggak merokok kami tidak menyarankan untuk ngevape. Dan vapor itu memang untuk 18 tahun keatas,”tandasnya.
Selain itu, Komunitas Vape Squad Tulungagung ketika bertandang ke kantor Jawa Pos Radar Tulungagung juga menunjukkan hasil foto rontgen paru-paru milik Aditya Arief N.S yakni salah satu anggota komunitas Vape Squad Tulungagung. Dalam hasil foto rontgen tersebut Aditya menjelaskan jika kondisi paru-parunya bersih setelah lima tahun menggunakan vapor. “Sebelumnya memang merokok dengan rokok konvensional, namun lima tahun terakhir saya beralih ke vapor dan hasil rontgen saya seperti ini,”jelasnya.
Sementara itu, Ketua sahabat Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Pusat Hasiholan Manurung melalui Ketua sahabat APVI Jawa Timur Ani Hayuni dikonfirmasi mengatakan, di Indonesia sendiri belum ada badan resmi yang mengeluarkan hasil penelitian akan dampak dari vapor itu sendiri. Namun demikian dia tak menampik jika vapor 100 persen menyehatkan. “Namun kami juga sadar dengan kesehatan kami. Untuk itu vapor menjadi salah satu alternatif aman untuk menghentikan kebiasaan merokok,”jelasnya.
Dia menggaris bawahi jika tembakau yang dipanaskan menghasilkan uap. Sementara tembakau yang dibakar akan menghasilkan tar. Di mana tar inilah yang dapat berdampak pada kesehatan.
Bahkan pada 25 April lalu badan pengawas obat-obatan dan makanan Amerika (FDA/ US Food and drug Administration) menyatakan jika tembakau yang dipanaskan atau heat not burn (HNB) tidak seburuk produk rokok dengan tembakau yang dibakar.
Tak hanya itu Ani mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Colin Mendelsohn profesor Asosiasi di Fakultas Kesehatan dan Pengobatan Masyarakat, University of New South Wales, Australia mengatakan vapor tidak sepenuhnya bebas dari risiko.
“Namun vaping terbukti dapat mengurangi tingkat karsinogen dan toksin dalam air ludah dan darah dari pengguna,” urainya.
Terkait kasus pengguna vapor meninggal di Amerika serikat, Anik mengatakan, dalam kasus tersebut ditemukan rokok elektrik yang berisi ganja. Untuk itu, dia pun mengimbau pada sejumlah masyarakat yang belum pernah menggunakan vapor maupun rokok konvensional untuk tidak mencoba keduanya.
Namun, jika seorang perokok berat ingin mencari alternatif untuk berhenti merokok dapat beralih pada vapor. “Kemudian vapor sendiri tidak untuk anak-anak. Sebaiknya sudah diatas 18 tahun,”tandasnya.
Editor : Anggi Septian Andika Putra