KOTA, Radar Tulungagung – Banyaknya serangan hama burung pipit dan tikus menyebabkan 33 hektare lahan persawahan padi di Tulungagung berpotensi atau terancam tidak penuhi target panennya. Sebab, hama tersebut menyerang padi yang siap panen. Hal itu disampaikan Gatot Rahayu, Koordinator Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Tulungagung.
Gatot mengatakan, setidaknya Desember ini ada delapan kecamatan di Tulungagung yang terserang hama burung dan tikus. Hal ini menyebabkan berkurangnya hasil panen sejumlah tanaman padi. Meskipun hama itu bersifat merusak, burung pipit dan tikus tidak sampai membuat gagal panen alias puso.
Dia melanjutkan, laporan tersebut dari petani di beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Tulungagung, Pagerwojo, Gondang, Kauman, Boyolangu, Ngunut, Kalidawir, dan Rejotangan. “Kami menentukan klasifikasi terlebih sebelum melakukan tindakan, guna mengetahui apakah kerusakan tergolong ringan, sedang, maupun berat,” jelasnya saat ditemui Jumat lalu (20/12).
Gatot mengatakan, serangan dua hama itu belum membuat petani gagal panen. Apabila tingkat serangan hama bisa dikendalikan. “Kejadian puso hanya dialami oleh persawahan yang terkena bencana alam seperti kekeringan, banjir, dan badai,” jelasnya.
“Apabila petani masih memiliki hasil panen, hal tersebut bukan gagal panen. Melainkan klasifikasi ringan, yakni penurunan hasil panen. Di samping itu, kami tetap berupaya memberi solusi atas permasalahan tersebut,” tambahnya.
Pria ramah ini melanjutkan, maraknya burung pipit dan tikus yang menyerang padi karena predator pemakan burung pipit banyak diburu. Seperti burung elang dan gagak banyak ditembaki orang tidak bertanggung jawab. Sedangkan peristiwa belakangan ini, yakni ular banyak ditangkapi dan dibunuh warga karena berbahaya, itu kesalahan besar. Seharusnya ular dikembalikan lagi ke sawah, bukan dibunuh. “Dalam rantai makanan, elang, gagak, dan ular sangat menyukai burung pipit dan tikus. Karena itu, tidak seharusnya elang dan gagak diburu. Bahkan diperjualbelikan. Hal ini sering saya jumpai, ” tuturnya.
Gatot menjelaskan, sebenarnya dispertan telah melakukan perbagai upaya untuk mengendalikan dua hama itu. Mulai memasang jaring sawah, pemberian petistida tikus sawah, serta pemulihan ekosistem berupa pengembangbiakan musuh alami tikus dan sanitasi lingkungan. “Kami mengupayakan penanganan hama berdasarkan laporan yang ada. Semoga hal itu mengurangi kerugian bagi petani,” harapnya
Pria berkumis tipis ini melanjutkan, upaya lain yakni menyarankan petani menanam varietas padi dengan daun bendera tinggi. “Dengan daun berdiri, maka daun tersebut melindungi padi ketika burung datang. Sehingga burung kesulitan memakan padi,” ujarnya
Tidak hanya itu, Gatot mengimbau warga yang memiliki senapan angin berburu tikus dan burung pipit.Selain itu, dispertan bersama persatuan penembak Indonesia (Perbakin) memburu tikus beberapa waktu. Upaya tersebut sangat efektif mengurangi tikus karena dalam perburuannya mendapat lebih dari 100ekor tikus dalam beberapa jam. “Saya harap masyarakatmelakukan hal serupa. Sehinggamampu membedakan antara predatordan hama yang layak diburu,” tandasnya.
Sementara itu, Jumaidi, seorang petani di Desa Bendo, Kecamatan Gondang, mengeluhkan hama yang menyerang tanaman padinya tersebut tak mampu diatasainya. Sehingga menyebabkan penurunan drastis hasil panen. “Target panen dari sawah 100 meter persegi ini kurang lebih 2 ton. Namun setelah serangan hama, kini panen hanya sekitar 180 kuintal,” tandasnya. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana