KOTA, Radar Tulungagung – Pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tingkat SMP yang sudah di depan mata, membuat ribuan siswa harus mempersiapkan diri. Termasuk fokus belajar dan menyiapkan materi-materi UN. Begitu juga dengan pihak sekolah, memberikan materi UN yang dibutuhkan siswa. Termasuk tambahan materi di luar jam kegiatan belajar mengajar (KBM).
Untuk persiapan ini, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) Tulungagung, melarang seluruh lembaga sekolah mengadakan jam tambahan berbayar. Ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. “Sesuai dengan PP Nomor 17 Tahun 2010, sekolah jangan sampai mengadakan jam tambahan berbayar. Kalau ada jam tambahan tapi tidak ada pungutan atau biaya sama sekali monggo,”jelas Plt. Kepala Dispendikpora Tulungagung, Hariyo Dewanto Wicaksono.
Untuk itu, pria yang akrab disapa Yoyok, ini telah membuat surat edaran (SE) kepada seluruh lembaga sekolah berkaitan larangan tersebut. Sebab, memasuki semester genap seperti sekarang, sekolah mulai persiapan materi UN. “Suratnya sudah saya edarkan ke sekolah, dan saya yakin setiap sekolah patuh dengan peraturan tersebut,”terangnya.
Sesuai dengan PP Nomor 17 Tahun 2010 pasal 181, pendidik dan tenaga kependidikan, dilarang memungut biaya dalam memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik di satuan pendidikan. Namun demikian, Yoyok memberi kebebasan bagi masing-masing sekolah dan guru dalam melakukan persiapan UN. Seperti menyisipkan materi UN pada saat kegiatan belajar mengajar (KBM).
Sementara itu, Waka Kesiswaan SMPN 6 Tulungagung Dwi Agus Prasetyo, membenarkan adanya surat edaran tersebut. Untuk itu, ia pun memilih melakukan persiapan UN pada jam-jam efektif KBM. “Ya benar, memang ada SE dari dinas. Jadi kami tidak mengadakan persiapan UN di luar KBM. Tapi kami sisipkan di jam KBM tersebut,” jelasnya.
Selain itu, ia pun mengimbau pada orangtua agar memberikan dukungan kepada siswa, biar siswa lebih semangat dalam belajar. Entah belajar mandiri di rumah ataupun mengikuti bimbingan belajar (bimbel) di luar. “Ya, jadi kami harap bapak/ibu wali murid bisa memberi dukungan agar anak juga belajar di rumah. Ikut bimbel di luar jika memang memungkinkan,”imbuhnya.
Disinggung mengenai dampak adanya SE ini, pria berkacamata ini mengatakan, program jam tambahan sebenarnya sudah rutin dilakukan setiap tahunnya. Terlebih bagi kelas 9 yang akan mengikuti UN. Ini berfungsi untuk membantu siap kembali mengingat materi-materi kelas 7 dan 8. Namun demikian, kini pihak sekolah memilih untuk membatalkan program tersebut dan memaksimalkan materi pada jam KBM. “Ya kami ikut aturan dari pemerintah. Kami yakin masih bisa memaksimalkan materi sebaik mungkin,”terangnya.
Hal senada juga disampaikan Kepala SMPN 3 Tulungagung, Amri. Ia mengatakan, jika program jam tambahan yang telah disepakati terpaksa dibatalkan. “Ya seperti sebelumnya, kami ada program jam tambahan, tapi kami batalkan,”jelasnya.
Amri mengatakan, akan memaksimalkan materi persiapan UN setelah siswa selesai menghadapi ujian sekolah berstandar nasional (USBN). Nantinya, kata dia, ada jeda waktu sekitar dua hingga tiga minggu sebelum pelaksanaan UN. Untuk itu, ia pun mohon dukungan dari orangtua/wali murid untuk membantu anak belajar ketika di rumah. “Jadi selesai USBN nanti kami punya waktu dua hingga tiga minggu. Nah, itu kami maksimalkan untuk persiapan UN. Orangtua juga saya imbau ikut mendukung anak belajar saat di rumah,”tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, diperkirakan sebanyak 12.062 siswa akan mengikuti UN pada April mendatang. Jumlah ini terdiri dari 10.530 siswa SMP negeri dan 1.532 siswa SMP swasta. Pelaksanaan UN kali ini sekaligus menjadi pelaksanaan UN yang terakhir. Itu setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) resmi menghapus UN, dan menggantinya dengan asesmen kompetensi. (*)
Editor : Dharaka Russiandi Perdana