Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harga Gula Tak Lagi Manis

Didin Cahya Firmansyah • Kamis, 12 Maret 2020 | 21:30 WIB
harga-gula-tak-lagi-manis
harga-gula-tak-lagi-manis

KOTA, Radar Tulungagung - Setelah empon-empon seperti jahe merah mengalami kenaikan harga, kini giliran gula pasir. Berdasarkan pantauan Koran ini di Pasar Grosir Ngemplak, harga gula pasir berada di kisaran Rp17 ribu hingga Rp17.500 per kilogram (kg). Harga ini sudah melampaui harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp12.500 per kg.


Sutingah, salah satu pedagang sembako di Pasar Grosir Ngemplak mengatakan, kenaikan harga gula pasir sudah terjadi sepekan terakhir. “Minggu lalu masih di kisaran Rp14 ribu per kg. Sekarang langsung melonjak sekitar Rp17 ribu per kg,” jelasnya.


Sutingah melanjutkan, kenaikan gula pasir kali ini mencapai 50 persen dari biasanya. Sebelumnya harga tertinggi untuk gula pasir adalah Rp 12.500 per kg. Meski demikian, wanita berambut ikal ini mengaku tidak dapat berbuat banyak. Tak jarang dia mendapat komplain dari para pembeli. “Ya, tetap ada yang beli, tapi sambil ngeluh,” bebernya.


Sementara itu, Plt Kepala UPT Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kecamatan Tulungagung Eko Setiyo Rahayu membenarkan adanya kenaikan harga gula pasir secara signifikan selama sepekan terakhir. “Harga di tingkat grosir juga sudah mahal, jadi di eceran pun meningkat signifikan,” terangnya.


Eko melanjutkan, kini untuk harga gula pasir satu sak (setara 50 kg) sudah melebihi Rp700 ribu. Minimnya stok pabrik membuat harga gula melonjak tajam.


Pria ramah ini membeberkan, stok minim di pabrik disebabkan kian menipisnya lahan tebu di wilayah Tulungagung. Sebab, kini petani tebu enggan menanam tebu dan beralih ke sayuran. Sehingga berpengaruh pada produksi tebu di Tulungagung. “Sekarang sudah semakin jarang yang mau menanam tebu. Jadi produksi pabrik juga kian berkurang,” ungkapnya.


Disinggung mengenai upaya pengendalian harga, Eko mengakujika pihaknya sudah koordinasi dengan disperindag dan Bulog. Namun, hingga kini belum ada langkah yang diambil oleh pemerintah. “Saat ini saya sudah melaporkan kondisi pasar. Kami sudah koordinasidan tinggal menunggu langkah selanjutnya seperti apa,”tandasnya. 

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung