KEDUNGWARU, Radar Tulungagung - Upaya Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung menekan angka kematian ibu dan bayi di Kota Marmer belum berdampak optimal. Itu dibuktikan dari tren angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) yang tinggi.
Yakni, angka kematian ibu (AKI) dari Januari hingga Mei tercatat enam kasus kematian ibu. Sedangkan angka kematian bayi (AKB) tercatat 69 kasus.
Plt Kepala Dinkes Tulungagung Bambang Triono, melalui Plt Kabid Kesehatan Masyarakat Siti Munawaroh mengatakan, enam kasus kematian ibu itu tercatat dari Januari hingga Mei kemarin. Angka tersebut tinggi jika dibandingkan data semester pertama 2019 yang hanya tercatat tiga kasus kematian ibu. Tingginya AKI biasanya dipengaruhi kondisi kesehatan ibu hamil (bumil). Bumil yang berstatus risiko tinggi (risti) karena mengidap penyakit seperti jantung dan hipertensi ini bisa memengaruhi kesehatan ibu maupun bayi yang akan dilahirkannya dan pascadilahirkan
"Untuk bumil risti seperti itu perlu perlakuan ekstra. Dia pun harus rutin cek kehamilannya untuk mengetahui kesehatan ibu maupun bayinya," katanya
Dari datanya, penyebab kematian ibu disebabkan preeklamsia, emboli, hipertensi kronis, pendarahan, dan jantung. Namun terbanyak disebabkan akibat pendarahan. Meski sekarang dalam kondisi pandemi, Siti Munawaroh menegaskan, tidak ada kematian langsung yang disebabkan Covid-19.
"Begitu juga kematian bayi. Tidak ada kematian bayi disebabkan Covid-19," tegasnya.
Untuk angka kematian bayi (AKB), jelas Siti Munawaroh, dari Januari hingga Mei tercatat 69 kasus kematian bayi. Jumlah tersebut terbilang tinggi dibandingkan tahun lalu (2019, Red) di semester pertama terhitung Januari hingga Juni tercatat 68 kasus. Dari catatan dinkes, penyebab kematian bayi tertinggi disebabkan asfeksia.
Asfeksia sendiri adalah kondisi bayi baru lahir yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Sehingga tidak bisa memasok oksigen ke dalam tubuh. Asfeksia disebabkan banyak factor. Di antaranya preeklamsia dan eklampsia, pendarahan, proses kelahiran yang lama, serta lainnya. Selain itu, penyebab kematian bayi lainnya yakni berat bayi lebih rendah (BBLR) dan kelainan bawaan.
"Untuk BBLR ini memang sangat rentan karena perlu penanganan khusus," jelasnya.
Siti Munawaroh mengatakan, penyebab kematian bayi juga dipengaruhi pola makan dan tingkat mobilitas dari ibu hamil. Hal ini berdampak pada tidak tercukupinya asupan oksigen untuk bayi. Lantas, untuk menekan risiko yang memengaruhi kesehatan bumil dan balita, bidan desa jadi garda terdepan. Dalam hal ini terus melakukan giat pendampingan kesehatan mereka.
"Kelas bumil sementara ditiadakan karena pandemi ini. Tapi tetap diimbau para bumil untuk cek kehamilannya sesuai jadwalnya. Bidan desa pun akan terus proaktif melakukan pendampingan. Semisal ada bumil yang tidak aktif, diimbau mendatanginya untuk cek kesehatan," tuturnya
Selain itu, juga meminta bumil untuk mengikuti pemeriksaan, seperti pemeriksaan HIV/AIDS dan lainnya. Dengan harapan, bumil tidak akan menularkan penyakitnya kepada bayinya.
"Jikapun ada kekurangan saat kehamilan, bisa segera ditangani," tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq